Saleh : Menguji Loyalitas Pemain

⊆ 15:18 by admin | . | ˜ 0 comments »

SURABAYA - Ketua Umum Persebaya H Saleh Ismail Mukadar SH tetap bersikap tenang menanggapi sikap sebagian pemain Persebaya yang mengancam mogok berangkat ke Jogja, terkait persoalan gaji selama 2 bulan (Oktober - Nopember) yang belum dibayarkan. Bagi Saleh, gonjang-ganjing dalam tubuh Persebaya merupakan dinamika organisasi dan harus disikapi dengan cara dewasa. "Saya tetap tenang dan mencoba berpikir jernih. Apapun yang terjadi tetap menjadi tanggung jawab saya sebagai ketua umum," katanya, Jumat (07/11) siang.

Tapi bagaimana jika pemain tetap ngotot dengan tuntutannya dan tour ke Jogja bakal tidak diikuti para pemain? "Demi rasionalisasi dan efisiensi klub di masa-masa mendatang, Persebaya siap ditinggal pemain-pemain yang pernah dibesarkan oleh Persebaya. Saya tidak akan kesulitan mencari pemain baru, minimal dari kompetisi internal Persebaya ada pemain-pemain muda yang bakal jadi bintang masa depan klub kebanggaan Arek Suroboyo ini," tegasnya.

Saleh mempersilahkan pemain yang semata-mata menuntut hak atas gajinya dan yang hanya mengukur kesetiaan terhadap klub dengan uang untuk segera menentukan sikapnya. Tetap bertahan dan loyal membela Persebaya atau pergi mencari klub baru. "Silahkan pergi kita tak akan nggandoli. Tapi pemain-pemain yang masih cinta Surabaya, loyal terhadap Persebaya dan menjadikan klub ini sebagai bagian dari hidup dan kebanggannya, kami terbuka lebar untuk mereka," tegasnya.

Menurut Saleh, pihaknya tetap meminta agar para pemain Persebaya tetap berangkat ke Jogja untuk melakukan pertandingan melawan PSIM Jogjakarta 12 Nopember dan dilanjutkan melawan Persiba Bantul pada 16 Nopember mendatang (tanpa pulang ke Surabaya). Bagaimana dengan tuntutan yang diajukan Bejo Sugiantoro? "Poin-poin yang mereka sampaikan baru saya baca dari media massa dan laporan lisan teman-teman pengurus. Saya belum ketemu mereka, jadi akan kita bicarakan dengan mereka setelah mereka kembali dari Jogja."

Saleh mengaku hingga saat ini masih berupaya mencari tambahan dana agar gaji pemain bisa segera dibayarkan sesuai hak para pemain. "Tapi sampai sekarang ini saya belum memiliki dana yang cukup untuk gaji mereka," tandasnya. Ia berharap para pemain, khususnya pemain-pemain senior untuk memaklumi kondisi keuangan Persebaya saat ini. Sebab kondisi serupa tidak hanya menimpa Persebaya, namun juga sebagian besar klub di Indonesia. Bahkan ada klub yang harus menunggak gajinya sampai tujuh bulan. "Rata-rata menunggak 2-7 bulan. Mulai Persik hingga Persitara yang pemainnya belum digaji selama 7 bulan. Ini kondisi umum yang memang tengah terjadi di Indonesia," paparnya.

Penyebabnya jelas, yaitu tak ada lagi dukungan dana dari APBD dan klub sendiri masih kesulitan mencari sponsor. Di sisi lain, asosiasi sepakbola seperti AFC dan FIFA menuntut agar klub-klub di Indonesia menjadi klub yang benar-benar profesional. "Klub yang semula menjadi klub sosial harus berubah menjadi klub profesional. Karena ada tuntutan dari AFC dan FIFA yang memaksa kita untuk melakukannya. Konsekwensinya kita harus mandiri. Agar tetap berjalan maka pengurus antara lain mengajukan skema rasionalisasi terhadap kontrak pemain," paparnya.

Namun, kondisi yang menimpa klub-klub tersebut tidak sampai menimbulkan gejolak besar, termasuk acaman pemain akan mogok bermain. "Ndak ada klub lain seperti kita, pemain pakai mengancam-ancam segala. Jika terjadi, semua akan dirugikan," keluhnya. Sebab soal rasionalisasi kontrak yang digagas pengurus bukan harga mati. Masih bisa dinegosiasikan. Bukan harga mati bahwa kontrak pemain akan dipotong sampai 60 persen. "Ini kan bukan angka final dan tidak potong langsung sampai 60%. Janganlah langsung reaktif seperti itu, tapi mari kita bicarakan," paparnya. (*)

0 Responses to Saleh : Menguji Loyalitas Pemain

= Ada Komentar?