Mengapa Harus Rasionalisasi?

⊆ 17:32 by admin | . | ˜ 2 comments »

SURABAYA - Semua sudah tahu, Persebaya musim ini sama sekali tak mendapat suntikan dana dari APBD pemerintah kota Surabaya. Pasalnya, ada surat edaran dari Mendagri yang melarang pemberian bantuan anggaran pemerintah buat klub sepakbola. Musim lalu saat Persebaya terpuruk di dasar klasemen kompetisi saja masih mendapatkan kucuran APBD sampai Rp 17,5 miliar. Sekarang tanpa kucuran dana APBD, Persebaya malah kukuh berada di puncak klasemen Divisi Utama menjelang paruh musim berakhir.

Namun dibalik keperkasaan Persebaya di lapangan hijau, ada kondisi memprihatinkan yang melingkupinya. Kondisi krisis keuangan yang membuat pengurus harus memutar otak mencari duit buat menggerakkan klub kebanggaan arek Suroboyo ini. Solusi yang ditawarkan pengurus kepada pemain adalah rasionalisasi kontrak. Artinya kontrak yang sudah disepakati di awal kompetisi dilakukan revisi berdasarkan kesepakatan, dipotong berkisar antara 10-30 persen. Tidak seperti yang dilakukan manajemen Persik Kediri yang langsung memotong 60 persen kontrak pemain atau Delras Sidoarjo yang memutus kontrak dan memulangkan sejumlah pemainnya.

"Ndaklah, kita ndak separah itu. Rasionalisasi tetap jalan tapi tidak seperti yang terjadi di Persik , Gresik United atau Deltras. Ini kan tawaran solusi, angka pemotongannya antara 16-29 persen saja. Jadi misalnya kontraknya Bejo sebesar Rp 550 juta lalu kita kurangi dengan 22 persen maka masih ada sisa yang sangat banyak sebesar Rp 430 juta," kata Ketua Umum Persebaya H Saleh Ismail Mukadar SH.

Saleh lalu membeber sejumlah faktar terkait kondisi keuangan Persebaya. Fakta yang membuat rasionaliasi harus dijalankan. Ketika dipilih menjadi Ketua Umum Persebaya April lalu hingga per awal Oktober, Saleh sudah mengucurkan dana tak kurang dari Rp 6,2 miliar. Pengeluaran Rp 6,2 miliar itu dipergunakan, antara lain untuk membayar 20 persen kontrak pemain sebesar Rp 2,365 miliar, sedangkan sisa kontrak dibayarkan setiap bulan yang menjadi gaji pemain. Gaji untuk 27 pemain setiap bulannya sekitar Rp 633 juta. Ini sudah termasuk gaji buat tim pelatih (Freddy Mulli, Mursid, Kasiyanto dan Hermansyah). Di Mess Persebaya, pengurus juga menyiapkan makan 3 x sehari lewat layanan catering yang rata-rata Rp 30-40 juta per bulan. "Kita juga menyiapkan suplemen tambahan seperti vitamin untuk semua pemain," kata Saleh.

Pengeluaran akan semakin membengkak jika Persebaya melakukan pertandingan tandang. Untuk ongkos akomodasi dan trasnportasi ketika ke Jawa Tengah rata-rata habis sebesar 100 juta. Jika memenangkan pertandingan maka harus disiapkan bonus sebesar 60 juta, plus uang saku untuk setiap pemain sebesar Rp 100 ribu per hari. Untuk perjalanan tandang ke Jogja (melawan PSIM dan Persiba), pemain akan bertahan di Jogja selama 6 hari. Costnya tentu makin membengkak. "Belum lagi biaya non teknis yang harus disiapkan. Dulu jumlahnya bisa sampai Rp 60 juta. Tapi sekarang bisa kita tekan," kata Saleh. M

Belum lagi tambahan sekitar 100 juta per bulan untuk belanja rutin, mulai dari gaji official tim Rp 15 juta, membayar tagihan air minum, listrik, telepon, akses internet, biaya cuci kostum, sewa lapangan untuk latihan dan lain-lain. Maka jika dihitung setiap bulan total yang harus disiapkan sebesar Rp 850 juta.

Bukankah Persebaya mendapatkan sponsor? Menurut Saleh, dari sponsor Diadora, Persebaya menerimanya dalam bentuk bantuan peralatan olahraga. Sedangkan dari AIM Biscuit Rp 900 juta (75 juta per bulan) dan juga hasil penggalangan dana sekitar Rp 1,4 miliar (Rp 133 juta per bulan). Maka fesh money dari sponsor total Rp 208 juta per bulan.

Bagaimana dengan tiket pertandingan sebagai sumber pendapatan utama Persebaya? Dari enam kali pertandingan kandangnya, Persebaya mendapatkan pendapatan lumayan besar sekitar Rp 1,35 miliar atau rata-rata Rp 225 juta per pertandingan. Tapi kemudian masih harus dikurangi dengan berbagai macam biaya selain pajak pertandingan. Biaya itu antara lain adalah jasa penjualan tiket, portir panpel, sewa stadion dan biaya lampu serta partisipasi untuk pengamanan. Hingga pendapatan bersih yang tersisa hanya Rp 712,8 juta atau sekitar Rp 118 juta per pertandingan.

"Taruh sebulan ada dua pertandingan home maka kita hanya mendapatkan Rp 236 juta plus dari sponsor Rp 208 juta maka total Rp 444 juta, sementara pengeluaran kita sampai Rp 850 juta. Kita minus 406 juta per bulan. Hitungan bersih seperti pertandingan terakhir melawan Gorontalo lalu kita hanya mendapatkan Rp 100-an juta saja. Pendapatan tiket pada enam pertandingan home sejak hanya cukup untuk biaya selama 1 bulan saja. Ini sudah berjalan selama enam bulan. Jadi rasionalisasi adalah solusi untuk kebaikan semuanya," papar Saleh.

Lalu dari mana sumber keuangan yang dipergunakan untuk menutup biaya operasional Persebaya selama ini? "Coba tanyakan ke pengurus lain atau official tim, jangan saya yang menjawab. Ini saya ungkapkan agar masyarakat tahu kondisi keuangan Persebaya yang sebenarnya, yang membuat solusi rasionalisasi kontrak kami tawarkan kepada pemain dan juga pelatih." (*)

2 Responses to Mengapa Harus Rasionalisasi?

  1. BUDI SETIAWAN Says:
    ini laporan keuangan mini bos... selamat berjuang!
  2. bhayangkarafootball.blogspot.co.id Says:
    maju terus pantang mundur wow keren bos! meski aku wong gresik tapi aku pendukung green force sejak mulai bisabaca tulis.

= Ada Komentar?