Persebaya VS PDI Perjuangan
⊆ 11:23 by admin | PARTAI , PERSEBAYA , POLITIK . | ˜ 4 comments »
Laga tandang di Bantul, Minggu (16/11) berhasil dimenangkan Persebaya Surabaya. Kemenangan itu membuat Persebaya kokoh di puncak klasemen dan tak terkejar tim lain hingga paroh musim. Kemenangan itu menjadi istimewa karena disaksikan jajaran pengurus Persebaya secara lengkap. Ketua Umum Persebaya H Saleh Ismail Mukadar SH secara khusus hadir di Bantul. Dia bersama pengurus lainnya datang sejak Sabtu dengan menggunakan kereta api Sancaka. Tapi menariknya, pertandingan di Stadion Sultan Agung itu bak ajang kampanye bagi PDI Perjuangan.
Bahkan seorang pengurus Persebaya ketika masuk Stadion Sultn Agung langsung berkomentar, "Waduh Pak, ini kan jadi kayak Persebaya melawan PDI Perjuangan." Sebab terlihat, dipenuhinya stadion berkapasitas 20 ribu itu dengan suporter Persiba berjuluk Paserbumi, menggunakan atribut warna merah-merah. Bahkan tak sedikit dari mereka yang memakai kaos bergambar logo PDI Perjuangan atau foto Ketua Umum PDI Perjuangan Hj Megawati Soekarnoputri. Bendera bernomor 28, nomor milik PDI Perjuangan pada Pemilu 2009 mendatang juga berkibar.
Ketua Umum Pengcab PSSI Bantul yang juga Ketua Umum Persiba adalah kader PDI Perjuangan. Drs HM Idam Sawawi adalah Bupati Bantul, kader terbaik PDI Perjuangan bidang pemerintahan, seperti halnya Drs Bambang DH Walikota Surabaya. Politisasi sepakbola Bantul? Kepemimpinan Idam Samawi di Bantul didukung 70 persen lebih saat Pilkada. Artinya, mayoritas warga Bantul memang menjadi kader PDI Perjuangan, sehingga atribut PDI Perjuangan bisa leluasa masuk stadion berbaur dengan suporter Persiba yang memang seragamnya juga berwarna merah.
Hal serupa bisa dilakukan di Surabaya. Walikotanya kader PDI Perjuangan dan Ketua Umum Persebaya juga adalah Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya. Memerahkan stadion Tambaksari dengan atribut merah-merah tentu bukan hal sulit, sebab Surabaya juga menjadi basis PDI Perjuangan. Bagaimana tanggapan Saleh Mukadar? "Kalau disuruh melakukan itu, meskipun saya bisa, tapi saya akan jawab dengan tegas TIDAK. Biarlah sepakbola tetap sepakbola dan politik tetap politik. Jangan dicampuradukkan," kata Saleh Mukadar yang mengenal baik sosok Idam Samawi itu.
Menurut Saleh, Persebaya dengan sejarah panjanganya telah menjadi bagian tidak terpisahkan dengan warga Surabaya. Sementara Surabaya adalah kota yang menjunjung tinggi pluralisme. Artinya, masing-masing akan senatiasa saling menghormati adanya perbedaan. "Tidak semuanya kan warga Surabaya warga PDI Perjuangan, saya kan harus menghormati pilihan warga. Karenanya, biarlah Persebaya tetap seperti sekarang ini. Selama saya menjadi ketua umum Persebaya tidak akan saya jadikan Persebaya sebagai panggung politik bagi PDI Perjuangan," tegasnya.
November 17, 2008 at 10:23 PM Pak, tolong Pak jangan campur aduk urusan sepak bola dengan politik... di apak-apakno nggak nyambung. Bonek mau pake seragam merah tapi bukan untuk PDIP, tapi untuk Merah-Putih Indonesia. Pemain persebaya sudah menunjukkan prestasi yg membanggakan, saya berharap gaji pemain persebaya segera di selesaikan biar tidak jadi masalah di kemudian hari, dan tidak jadi bom waktu yg siap meledak dan merusak perjalanan Persebaya untuk partai2 berikutnya.
Terima kasih,
rama bonek
November 18, 2008 at 5:24 AM salah satu kiat sukses saya mimpin organisasi adlh sikap profesional yg sangat saya junjung.saya tdk pernah sedikitpun campur adukan urusan partai saya dgn urusan2 lain diluar itu termasuk Persebaya.gaji Oktobber semua sdh dibayarkan kalau sampeyan mau ikut urun untuk gaji November ayo saya tunggu.
November 19, 2008 at 6:24 AM bonek tanpa atribut
Prestasi dibayar dengan utang.
Ngisin-ngisini, baru kali ini tim sebesar Persebaya nunggak gaji. Walaupun Anda bilang gaji Oktober sudah dibayar dan tinggal gaji November tapi sebenarnya masalah krusialnya belum terpecahkan. Anda terlalu mengharapkan dana dari APBD ato apa saja namanya yang jelas Anggaran milik Pemerintah Daerah, pdhl sudah jelas dilarang sama pemrintah pusat tapi tetap saja banggel. dan menurut saya kebijakan pemerintah pusat itu bagus untuk kemandirian klub sepak bola profesional Indonesia. Anda bilang tidak mencampur adukan dg politik teorinya, praktiknya lain. mulai dari Bambang DH, Anda sendiri, Indah Kurnia dll yg tdk sy kenal merupakan orang2 PDIP yg jelas2 ndompleng nama besar Persebaya untuk 2009. kalo sampai Persebaya dan klub2 besar lainnya kekurangan dana krn tdk dikucurkannya APBD sungguh sangat ironi. Andaikan dulu Persebaya tetap dipegang P. Arif dg semua konsepnya yg matang ( swastanisasi ) Insya ALLAH hal tsb akan menjadi bagus buat Persebaya ke depan ( tdk seperti skrag ini ) & akan menjadi proyek percontohan yg bagus bagi klub2 yg lain. saya yakin beliau tdk bermaksud akan menjual Persebaya ke pihak swasta justru sy curiga dg orang2 yg hanya cr uang dari Persebaya seperti Amang Mulia CS dulu yg minta kongres2. sekarang mana tanggung jawab mereka kalo Persebaya kolaps begini ? terus terang sy bukan pendukung siapa2, sy hanya menegakan kebenaran. kalo sy ditanya apa mau urun untuk gaji November ? sy jawab sy telah membantu Persebaya lebih dari 15 th yg lalu dg cara membeli tiket resmi setiap pertandingan home Persebaya, itu sj yg bs sy lakukan krn sy orang melarat, apa yg sy minta dari Persebaya ? hanya prestasi, itu saja, tdk pernah lebih dari itu. Jadi sy kira ngurus sepak bola buth orang yg gila bola yg mau berkorban untuk Persebaya demi Prestasi bukan materi. sekarang tanggung jawab ada di pundak pengurus bagaimana menyelamatkan Persebaya sampai akhir kompetisi dg baik shg tdk sampai menjadi bom waktu yg siap meledak seperti dikatakan teman sy tsb.
terima kasih, jayalah selalu PERSEBAYAKU
November 20, 2008 at 5:18 AM ciri orang jujur dan jantan adalah berterus terang dan tidak menyembunyikan identitas dirinya.Sedangkan orang yang hatinya bersih dari berbagai kepentingan akan menilai sesuatu secara fair,apa adanya tanpa dilambari iri maupun dengky,karena itulah saya tidak akan membela diri dari tuduhan saudara,sebab saya yakin Allah dan waktu juga nanti yang akan menjadi hakim paling adil terhadap apa yang saya lakukan bagi persebaya dan apa yang pernah saudara lakukan maupun pikiran buruk apa yang masih saudara sembunyikan untuk saya dan persebaya.