Noda Hitam di Bali

⊆ 18:38 by admin | . | ˜ 0 comments »

Saat pembukaan Asian Beach Games di Bali 18 Oktober 2008 lalu, ada undangan KONI Jatim untuk hadir. Disela-sela acara, saya yang beberapa kali mengunjungi Bali masih saja terkagum-kagum dengan Pulau Dewata itu. Alamnya tetap eksotis, pantainya tetap menarik, budayanya tetap kental terjaga. Obyek wisatanya semakin banyak ragamnya. Tapi yang terpenting adalah turis asingnya sudah mulai banyak terlihat. Jalan Legian mulai dipenuhi turis-turis asing, malam minggu kawasan Kuta mulai cenderung macet. Hingar bingar dunia malam di Kuta sudah bergetar lagi.
Tapi saya terkejut saat mengunjungi Danau Batur. Dari Kintamani, danau di bawah kaki Gunung Batur itu masih terlihat begitu indahnya. Tapi ketika saya turun ke bibir danau, tidak ada apa-apa disana. Benar-benar sepi dan lengang, seperti kawasan mati. Tak ada lagi deretan kios-kios menjual cindera mata. Peralatan olahraga air(watersport) bergeletakan tak terurus. Tidak banyak lagi penjual makanan seperti jagung bakar. Halaman parkir yang luas kosong. Masihkah ini di Bali?

Tak banyak perahu yang bersandar di dermaga. Perahu-perahu yang seharusnya dipenuhi turis-turis menuju Trunyan tak ada lagi. Oleh guide tour, saya disarankan tidak usah pergi ke Trunyan, dimana ada tradisi warga setempat meletakkan orang meninggal tergeletak tidak dikuburkan. Alasannya, masyarakat disana sekarang menjadi tidak wellcome terhadap turis. Setiap tamu yang berkunjung cenderung 'dimainkan', diperas agar mengeluarkan banyak duit.

Sikap tidak simpatik oknum warga itu semakin menjadi-jadi pasca Bom Bali. Sepinya turis membuat mereka 'memeras' siapa saja yang berkunjung ke Trunyan, agar mendapat duit. Akibatnya turis menjadi takut, tak mau lagi datang. Tak ada turis membuat sumber ekonomi di Danau Batur musnah. Seharusnya, sikap simpatiklah yang dilakukan. Sikap menghormati dan menjadikan turis bak raja harusnya tetap dilakukan. Bukannya malah membuat turis takut dan lari hanya demi uang jangka pendek.

Sebab apa yang kita lakukan, entah itu baik atau buruk maka efek yang sama akan menimpa diri kita juga. Efek bumerang itulah yang kini tengah diterima warga di kawasan Danau Batur. Jika itu terus dilakukan tak heran jika pariwisata di Danau Batur dan Trunyan menjadi benar-benar mati. Semoga tidak! (*)

0 Responses to Noda Hitam di Bali

= Ada Komentar?