Tamu Persebaya dari Australia
⊆ 20:01 by admin | ˜ 0 comments »
Selaku Ketua Umum Persebaya, Rabu, 22 Oktober 2008 siang, Saleh Mukadar menerima tamu dari perwakilan dari Pemerintah Australia Barat, Mr Martin Newbery. Keduanya berdiskusi akrab soal prospek dan masa depan sepakbola di Surabaya. Mr Martin yang menjadi Regional Director Indonesia Trade Office itu banyak memberikan masukan bagaimana menjadikan Persebaya sebagai klub profesional, menjual trademark Persebaya untuk mencari sumber pendanaan dan lain sebagainya."Persebaya nama besar, apalagi Surabaya sebagai Kota Pahlawan. Ini saja sudah membuat orang tertarik dengan Persebaya. Jika Persebaya dikelola dengan baik, tentu tidak akan kesulitan mencari sponsor buat Persebaya," kata Mr Martin yang fasih berbahasa Indonesia itu.
Menurut pria yang sedah tiga tahun menetap di Jakarta ini, syarat utama agar Persebaya mudah mencari sponsor adalah sesedikit mungkin melepas keterikatannya dengan Pemerintah Kota Surabaya. Sebab sepakbola jika dikaitkan dengan pemerintah, masih ada stigma negatif bahwa klub tersebut tidak akan bisa menjadi profesional.
"Kalau toh pemerintah dilibatkan, maksimal hanya 20 persen saham saja, sisanya investor. Soal klub-klub juga harus ada sahamnya meski kecil, tapi ada konpensasi yang diberikan Persebaya terhadap mereka untuk pembinaan," tandasnya Mr Martin. Pria vegetarian itu juga berharap agar citra suporter Persebaya bisa diperbaiki. Menurutnya beberapa waktu lalu ada klub asal Australia enggan bermain di Surabaya karena takut sikap berlebihan Suporter Surabaya. "Boneknya itu kalau mendukung jangan berlebihan ya."
Saleh menegaskan bahwa kondisi bonek dari waktu ke waktu semakin baik dan dewasa. Ia menyebutkan saat Persebaya menderita kalah di pertandingan home pertamanya dari Persibo Bojonegoro, tidak ada kejadian anarkis baik di dalam maupun luar stadion. Bonek sudah bisa menerima keadaan tersebut dengan lapang dada. Sedangkan masalah profesionalisme, Saleh sepakat dengan Mr Martin.
Saat ini sepakbola di Indonesia oleh aturan FIFA dan AFC memang tengah digiring menuju sepakbola berbasis pada segi-segi ekonomis. Padahal kenyataannya, sepakbola Indonesia masih menggunakan paradigma sosial. Paradigma yang mengutamakan supremasi, mengabaikan pembinaan. "Menang adalah goal akhirnya, sehingga yang terjadi adalah terabaikannya sisi pembinaan. Segala cara kalau perlu dilakukan agar menang. Akibatnya costnya menjadi tidak rasional lagi. Ini fakta dan saya sepakat untuk dihilangkan. Tapi tidak semudah membalik telapak tangan, harus dilakukan secara bertahap, agar klub bisa bersiap diri menjadi klub yang tidak lagi mengandalkan sumber dana dari APBD," jelasnya. (*)
0 Responses to Tamu Persebaya dari Australia
= Ada Komentar?