Tak Mau Dianggap Lari
⊆ 23:41 by admin | OLAHRAGA . | ˜ 0 comments »Setelah sempat menentang isi Pasal 40 Undang-undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional, Saleh Ismail Mukadar akhirnya tetap mundur sebagai Ketua Umum KONI Kota Surabaya. Lelaki kelahiran Pulau Buru 25 Desember 1963 itu terpaksa melepas jabatan itu demi menghormati aturan yang tertuang dalam Anggaran Dasar KONI Pusat.
Anggaran tersebut melarang adanya rangkap jabatan ketua umum KONI dengan ketua induk organisasi cabang olahraga. Ternyata Saleh memilih mundur dari KONI ketimbang melepaskan jabatan Ketua Umum Pengurus Cabang PSSI Surabaya yang otomatis menjabat Ketua Umum Persebaya Surabaya. Hal itu boleh dibilang cukup mengejutkan mengingat kondisi Persebaya saat ini sedang dilanda krisis keuangan setelah pemerintah melarang penggunaan dana APBD.
Sebaliknya, kondisi KONI Kota Surabaya semakin membaik setelah skuad Jawa Timur yang menjuarai PON XVII/2008 mayoritas berasal dari Kota Pahlawan. Mengapa Saleh mengambil keputusan yang sebenarnya justru merugikan dirinya? Berikut petikan wawancara Kompas dengan suami dari Nur Milawati itu seusai pembukaan Turnamen Sepak Bola U-20 Piala Bagian Pemuda dan Olahraga Kota Surabaya di Wisma Persebaya, Senin (13/10).
Mengapa Anda memilih mundur sebagai Ketua Umum KONI Kota Surabaya daripada Ketua Umum Pengcab PSSI Surabaya?
Saya tahu pasti banyak pihak yang bingung dengan keputusan ini. Namun, saya lebih baik melepas jabatan di KONI setelah semua pengurus KONI Surabaya maupun pengurus cabang olahraga mendukung. Saya merasa mereka semua dapat terus berjalan tanpa saya karena sistem yang ada saat ini sudah terbangun dengan rapi. Sebaliknya, kondisi di tubuh PSSI Surabaya khususnya Persebaya yang sedang bermasalah justru menjadi tantangan bagi saya.
Anda sebenarnya punya alasan yang kuat untuk mundur dari Persebaya. Mengapa tidak memilih jalan itu untuk meringankan beban?
Justru itu yang tidak saya inginkan. Saya tidak mau dianggap lari dari tanggung jawab. Terus terang saya memang rugi dengan tetap bertahan di Pengcab PSSI Surabaya. Namun, saya dan pengurus Persebaya punya pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.
Lalu apakah Anda memang berniat mundur sejak jauh hari? Karena dulu Anda ngotot mempertahankan jabatan ini?
Jujur saja saya sebenarnya terpaksa mundur dari ketua umum KONI Kota Surabaya. Hal itu karena saya baru saja mengetahui hasil revisi Anggaran Dasar KONI Pusat pada Rapat Paripurna Nasional 2007. Meskipun hasil revisi itu sudah kami terima awal tahun ini, ternyata tak ada pengurus yang membaca dengan detail isinya. Kalau tahu sejak awal saya mungkin tidak akan menerima tawaran menjadi ketua umum Pengcab PSSI Surabaya.
Lantas apakah Anda sudah menunjuk pengganti?
Berdasarkan hasil rapat pleno dengan seluruh pengurus, kami sepakat untuk memberikan mandat dan melimpahkan wewenang maupun tanggung jawab kepada Heroe Poernomohadi sebagai Wakil Ketua Umum I. Dia akan bertugas sebagai pejabat ketua umum hingga berakhirnya masa bakti pengurus pada tahun 2010. Saya sendiri masih diminta menjadi ketua kehormatan yang tugasnya memberi nasihat jika diminta.
Mengapa memilih Heroe mengingat banyak figur berpengalaman yang pantas menggantikan Anda?
Suatu ketika saya pernah mengikuti rapat di KONI Jatim yang dihadiri mayoritas orang-orang sepuh. Bagi saya hal itu cukup ironis karena di saat mereka lebih pantas menimang cucu justru masih memikirkan olahraga. Saya pikir pengembangan olahraga lebih pas jika dipegang generasi muda seperti Heroe.
Dengan tidak lagi bertugas di KONI, apa rencana Anda pada masa yang akan datang?
Saat ini saya akan lebih berkonsentrasi mengurus Persebaya. Kondisi keuangan tim saat ini sangat memprihatinkan. Manajemen terpaksa menunggak kembali gaji pemain bulan ini karena belum mendapat dana talangan. Terus terang dengan adanya larangan penggunaan dana APBD sangat sulit bagi kami memeroleh pinjaman sebesar Rp 663 juta setiap bulan untuk membayar gaji pemain.
Lantas apakah revisi nilai kontrak maupun gaji seperti yang dilakukan Gresik United akan Anda terapkan juga guna mengantisipasi hal itu?
Jika kondisinya semakin kepepet, saya mungkin akan merestrukturisasi ulang anggaran. Namun, caranya tidak ekstrem seperti yang dilakukan manajemen Gresik United. Saya lebih memilih untuk merasionalisasi pembiayaan agar pemasukan bisa seimbang dengan pengeluaran. Rasionalisasi gaji maupun kontrak pemain akan berbasis kinerja sesuai dengan kontribusi masing-masing.
Maksudnya?
Bayaran pemain nanti akan disesuaikan dengan kontribusinya terhadap tim. Peran pemain akan dilihat dari penampilannya di lapangan karena masyarakat Surabaya sangat menginginkan kemenangan. Jika tim berprestasi bisa dipastikan penonton akan semakin memadati Stadion Gelora 10 Nopember. Manajemen telah bersepakat dengan panitia pelaksana pertandingan bahwa hasil penjualan tiket bisa digunakan untuk membayar gaji dan bonus pemain. (Aswin Rizal Harahap/Koran Kompas Edisi Jatim 14 Oktober 2008)
0 Responses to Tak Mau Dianggap Lari
= Ada Komentar?