Saatnya Pendidikan Nilai-Nilai
⊆ 00:39 by admin | KOMISI E , NEWS . | ˜ 1 comments »
Arah kebijakan pendidikan di Jawa Timur sudah saatnya lebih menitikberatkan pada pembentukan nilai-nilai kepribadian, daripada sekedar mengejar angka ujian. Nilai-nilai kepribadian tersebut menurut Ketua Komisi E DPRD Jawa Timur H Saleh Ismail Mukadar jauh lebih penting dibandingkan angka-angka kelulusan. "Program pendidikan kita sebut gagal jika hanya mampu memberikan angka kelulusan semata dan mengesampingkan pembentukan watak dan kepribadian anak-anak kita. Ini yang seharusnya menjadi prioritas bagi arah kbijakan pendidikan di Jawa Timur," katanya.
Saleh saat menjadi nara sumberpada rapat koordinasi Pemanfaatan Anggaran Fungsi-Fungsi Pendidikan, yang diselenggarakan Badan Perencanaan Pembangunan Propinsi (Bappeprop) Jatim pada 4-5 Desember 2008 di Hotel Garden Surabaya menyebutkan pendidikan nilai-nilai itu sekarang menjadi trend di dunia barat. "Di dunia barat yang semula mengejar angka-angka kini kembali mengajarkan nilai-nilai, sedang kita kok malah getol-getolnya mengejar angka-angka."
Menurut Saleh, pendidikan yang menekankan pembentukan nilai-nilai, sudah menjadi amanat dari pasal 3 UU No 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas (Sistim Pendidikan Nasional). Pasal tersebut menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. "Ini sudah jelas dan wajib hukumnya bagi kita semua untuk mewujudkannya," tandasnya.
Namun yang saat ini masih terjadi adalah sebaliknya. Setiap tahun kita kita melihat bagaimana ekspresi siswa saat pengumuman kelulusan sekolah, khususnya SMA yang begitu hingar bingar. Begitu hebohnya dan cenderung tidak mencerminkan kepribadian serta peradaban bangsa yang bermartabat. Mereka menurut Saleh, lupa bahwa hasil ujian nasional meski tinggi namun hanya bagian kecil dari suatu keberhasilan. "Ada penelitian yang menyebutkan bahwa IQ hanya berperan 20 persen menunjang sukses, 80 persen sisanya tergantung kepada EQ dan SQ," jelasnya.
Artinya, kemampuan menahan diri, mengendalikan dan memahami emosi diri sendiri atau orang lain, berdaya tahan menghadapi kegagalan, sabar, memiliki motivasi, kreatif, berempati, toleran adalah bagian dari nilai-nilai yang jauh lebih penting dari sekedar ujian nasional. "Maka sekolah harus membuat kurikulum yang mampu mengarahkan siswa agar mampu mempelajari keterampilan dan pengetahuan tentang materi-materi pelajaran spesifik, mampu mengembangkan konseptual umum dan mampu mengembangkan kemampuan dan sikap pribadi yang dapat diaplikasikan di masyarakat," jelasnya. (sak)
December 9, 2008 at 1:39 PM Saya setuju dengan wacana kurikulum yang berfungsi untuk pengembangan EQ (kecerdasan emosi) pada sistem pendidikan nasional kita, karena pengembangan EQ tsb sangatlah penting.Saya analogikan bahwa IQ itu adalah parameter potensi diri seseorang, sedangkan EQ adalah parameter kemampuan seseorang untuk memaksimalkan potensi diri. Apabila si A mempunyai IQ=80; EQ=35 dan si B mempunyai IQ=65;EQ=100, dalam kehidupan nyata si B bisa lebih sukses dari si A walaupun secara intelektual masih kalah dengan si A.
Kongkretnya dalam kehidupan sehari-hari, si B tahu dia adalah ayam, dan dia sadar tidak akan mungkin menjadi burung Elang.Tapi si B tidak akan menjadi ayam yang bermimpi suatu hari akan menjadi burung Elang, dia akan menjadi ayam yang berkualitas, yang berbulu indah, bertaji kuat dan memiliki semua syarat untuk menjadi ayam yang luar biasa.
Roy MR