Tukang Batu Wanita Andalan Keluarga

⊆ 14:05 by admin | . | ˜ 0 comments »

Surabaya-Marsiyah adalah satu-satunya tukang batu perempuan di Bulak Banteng Kidul Surabaya. Namun perempuan cekatan ini justru tewas saat membangun rumah tetangganya.

Perjuangan hidup Marsiyah, 40, warga Bulak Banteng Kidul Gang V RT 2 RW 4 Kelurahan Sidotopo Wetan, Kenjeran Surabaya untuk menanggung beban keluarganya harus dibayar mahal. Satu-satunya tukang batu perempuan di wilayah Bulak Banteng Kidul ini tewas akibat terjatuh dari andhang (kerangka kayu untuk pijakan) setinggi 5 meter.

Peristiwa tragis itu terjadi ketika Marsiyah membangun rumah Anis Siswanto,47, warga Bulak Banteng Kidul Gang IX, Kamis (13/11). Seperti biasa Marsiyah bersama beberapa kuli memulai pekerjaannya pukul 07.00 WIB. M Romli, 27, salah satu kuli mengaku tidak ada yang aneh saat mereka mulai bekerja.
Pagi itu mereka sedang menyelesaikan pembuatan tembok yang sudah mencapai lebih dari empat meter. Seperti hari-hari sebelumnya Marsiyah lah yang bertugas menyusun bata itu. Cuma, sekarang lebih tinggi. Karena itu ia berdiri di atas andhang kira-kira setinggi 4 meter.

“Tugas saya di bawah membuat adonan semen dan mengoper bata-bata ke atas. Sedangkan Bu Marsiyah di atas menyusun bata di andhangnya untuk dibuat tembok,” terang M Romli, Kamis siang. Tanpa mereka sadari, susunan bata sudah terlalu banyak dan terlalu berat bagi andhang tempat Marsiyah berdiri. Sekitar pukul 09.30 WIB, M Romli mendengar suara berderik dari andhang bambu itu. Hanya dalam hitungan detik andhang itu patah dan tubuh Marsiyah terpelanting. Kepalanya yang pertama membentur jalan.

“Rupanya ada bagian andhang yang patah karena terlalu berat muatannya. Bu Marsiyah kaget sehingga tidak seimbang dan tubuhnya langsung jatuh,” terang M Romli dengan suara tertahan.

Tahu bosnya sekarat, Romli dan kuli lainnya menggotong Marsiyah ke tempat teduh untuk diistirahatkan. “Kami sempat memberinya minum sambil menunggu keluarganya,” kata Romli. Belum sempat dilarikan ke rumah sakit, jiwa ibu tiga anak ini tidak tertolong. Oleh keluaraganya jenazah Marsiyah langsung dibawa pulang.

Kematian Marsiyah mengundang iba warga sekitar. Bagaimana tidak, perempuan bertubuh kurus ini menjadi tulang punggung keluarganya. Meski ketiga anaknya (Santi, Mariyam dan Arifin) sudah berkeluarga, namun kondisi keluarganya juga serba pas-pasan. Mereka bekerja sebagai pedagang kaki lima dan masih tinggal bersama Marsiyah di rumah kontrakan ukuran 4x8 meter.

Tak pelak, penghasilan Marsiyah yang Rp 50.000/hari menjadi sangat penting bagi keluarga itu. Marsiyah yang sudah 15 tahun menjadi tukang batu ini juga masih menanggung hidup ibunya, Mali, 75 tahun.

Surya, 26, tetangga mengaku kagum pada Marsiyah. Sejak bercerai 10 tahun lalu dia yang menjadi tumpuan keluarga. Ia sudah menjadi tukang batu sebelum bercerai. “Saat itu anak-anaknya masih kecil. Jadi dia yang menghidupi keluarganya,” kata Surya.

M Romli, yang tujuh tahun bekerja bersama Marsiyah berujar sama. Selama menjadi anak buahnya, Romli tidak sekalipun bersitegang dengan Marsiyah. Bahkan Romli cukup enjoy karena pekerjaan terus mengalir. “Biar dia perempuan, hasil kerjanya tak kalah dengan tukang laki-laki. Banyak orang yang memintanya. Jadi saya bisa dapat kerja juga,” kata Romli.

Karena kualitas pekerjaannya, Marsiyah sangat dikenal di kawasan itu. Tak mengherankan kalau banyak warga Bulak Banteng Kidul yang mempercayakan pembangunan atau renovasi rumahnya pada Marsiyah. Dengan begitu ia dan para kulinya nyaris tidak pernah libur, karena pesanan terus datang.

Perasaan iba juga dirasakan Mat Mochtar, Ketua RW 4 Kelurahan Bulak Banteng Kidul, Sidotopo. Mengetahui warganya tewas, Mochtar langsung menghubungi kelurahan dan kecamatan melaporkan kejadian tersebut. Tidak menunggu lama, lurah dan camat Kenjeran langsung datang ke rumah Marsiyah memberikan santunan. Bahkan Ketua Komisi E DPRD Jatim Saleh Mukadar juga memberi santunan.

“Mudah-mudahan dia mati sahid karena meninggal saat bekerja untuk menghidupi keluarganya. Dialah Srikandi bagi keluarganya,” kata Mochtar. Mochtar memastikan keluarga sudah ikhlas dengan kepergian Marsiyah. Meski demikian, dia berharap pemilik rumah tempatnya bekerja mau memberikan santunan yang cukup untuk keluarga yang ditinggalkan. “Kasihan sekali mereka. Bagaimana nasibnya setelah ditinggal Bu Marsiyah,” kata Mochtar. /Musahadah (Sumber Harian SURYA)

0 Responses to Tukang Batu Wanita Andalan Keluarga

= Ada Komentar?