Stadion Bung Tomo Tak Sekadar Mimpi
⊆ 00:35 by admin | NEWS , OLAHRAGA . | ˜ 1 comments »
Stadion Tambaksari tak lagi sebuah kebanggaan kota pahlawan. Berkapasitas 30 ribu penonton dan diresmikan Presiden Soeharto saat akan membuka PON VII tahun 1969 stadion terletak di kawasan timur Surabaya itu makin usang dan nyaris tergilas perkembangan zaman. Padahal, berbagai kota di Indonesia saling berlomba membangun stadion dan gelanggang olahraga.
Bukti Stadion Tambaksari yang akrab dengan nama Gelora 10 November tersebut ketinggalan zaman, pembukaan dan penutupan PON XV/2000 dialihkan dari Surabaya ke Sidoarjo. Panpel PON Jatim di bawa komando Imam Utomo saat itu punya dua nominator yaitu Stadion Delta di Sidoarjo dan Stadion Petrokimia di Gresik. Pilihan terakhir adalah Stadion Delta yang baru saja rampung dibangun. Stadion Tambaksari dinilai tak memenuhi syarat untuk upacara pembukaan PON.
Pemkot Surabaya kala itu terkesan tidak ambil pusing perhelatan PON harus bergeser ke kota tetangga Sdoarjo. Pertandingan pilihan cabang paling bergengsi sepakbola pun tak pelak terfokus di Stadion Delta. Stadion Tambaksari hanya kebagian babak penyisihan. Cabang atletik yang menjanjikan paling banyak medali juga terpusat di Stadion Delta.
Lain kota Surabaya, lain juga Palembang dan Samarinda. Menjelang PON XVI/2004 di Samarinda, Pemprov Sumsel dan Pemkot Palembang saling bergandeng tangan mewujudkan kawasan olahraga di kawasan Jakabaring Palembang. Di sana dibangun stadion megah berkapasitas 50 ribu lebih penonton berikut gedung-gedung pertandingan untuk beragam cabang olahraga. Jadilah aktivitas PON XVI terpusat di Jakabaring . Sebuah kondisi yang tidak ditemukan saat PON XV/2000 digelar di Jatim.
Kalimantan Timur yang menjadi tuan rumah PON XVII tak mau kalah dari Sumatera Selatan. Menyongsong perhelatan PON XVII mereka membangun dua komplek olahraga masing-masing di kawasan Sempaja dan Palaran. Dua kawasan itu berada di kawasan barat dan selatan kota Samarinda. Di Sempaja dibangun stadion, beberapa gedung olahraga dan hotel berlantai lima. Sedangkan di Palaran yang berjarak sekitar 30 km dari pusat kota dibangun stadion utama dan sejumlah venues pertandingan (GOR) cabang renang, bulutangkis, sofbol, berkuda dan lain-lan. Stadion Segiri yang berada di jatung kota dan kurang lebih berkapasitas sama dengan Stadion Tambaksari tak pelak hanya sebagai pelengkap dan hanya dipakai untuk partai penyisihan.
Sesungguhnya banyak manfaat dari pembangunan sebuah kawasan khusus olahraga. Paling tidak sarana dan prasarana pendukung seperti lahan parkir dapat saling mendukung. Terutama saat penonton sepakbola berduyun-duyun membanjiri stadion.
Tahun ini Pemkot Surabaya mulai ancang-ancang membangun megaproyek Surabaya Sport Centre (SSC) di kawasan Pakal, Benowo. Rencananya di sana dibangun Stadion Utama (Stadion Bung Tomo) berpakasitas 50 ribu lebih penonton. Juga Stadion terbuka (in door), masjid dan lain-lain. Pihak PT Adhikarya sebagai pelaksan juga sudah ancang-ancang mengerahkan segala kemampuan agar Stadion Bung Tomo dapat segera terwujud.
Rencana pembangunan stadion di Kelurahan Pakal Benowo sesungguhnya bukan berita baru bagi warga Surabaya. Sebelum PON XV/2000 di gelar di Jatim, rencana tersebut sempat hingar-bingar di media massa namun kemudian tenggelam ditelan bumi. Patut disayangkan Pemprov Jatim dan Pemkot Surabaya kala itu cenderung kurang antusias membangun stadion. Kegetolan Pemkot membangun Stadion Bung Tomo justru bertalu-talu setelah 8 tahun PON XV.
Untuk sarana olahraga, Surabaya kini patut disebut ketinggalan kereta. Stadion yang ada di Gresik, Sidoarjo dan Kediri jauh lebih hebat dibanding Tambaksari yang boleh jadi 39 tahun silam sebuah kebangggaan tersendiri bagi arek-arek Suroboyo. Dengan kapasitas 30 ribu penonton, saat penduduk Srabaya belum mencapai 1 juta, Tambaksari sudah tergolong prestisius. Namun ketika penduduk Surabaya kini hampir 4 juta jiea, kondisi itu beda 100 derajat. Paling menyulitkan adalah pertumbuhan penduduk di sekitar stadion. Kondisi arus lalu lintas dan parkir sulit sering dikendalikan.
Sejatinya warga Surabaya dan Jatim lebih berharap kawasan Stadion Bung Tomo di Pakal Surabaya kelak diwujudkan tak sekadar sebuah stadion sepakbola. Lebih sempurna kawasan itu dilengkapi aneka ragam GOR. Dengan begitu para atlet dari cabang atletik olahraga tidak perlu lagi sekadar berlatih pergi ke Stadion Delta. Hingar binger olahraga kota jika mungkin diarahkan ke Pakal yang terletak di kawasan barat Surabaya. Pembangunan kawasan olahraga saat ini memang hanya tersedia di wilayah barat kota Surabaya seperti Kecamatan Benowo dan Lakasrsantri. Dinilai ideal karena berdekatan akses jalan tol dan marak petumbuhan kota.
Pembanguna Stadion Bung Tomo juga diharapkan tidak mengesampingkan pertimbangan potensi masa depan. Perencanaan berikut rancang bangun harus memperhatikan kebutuhan jangka panjang. Juga faktor pertumbuhan penduduk dan pembangunan sarana jalan. Bukan tidak mungkin puluhan tahun ke depan Stadion Bung Tomo terlindas oleh perkembangan zama sebagaimana dirasakan Stadion Tambaksari. Jika mungkin, Pemkot membidik kawasan itu menjadi kawasan khusus olahraga seperti Jakabaring di Palembang dan Sempaja serta Palaran di Samarinda. Membangun gelanggang olahraga hanya untuk keperluan sepakbola tidak mustahil sebuah proyek rugi.
Kota Surabaya kini sangat minim sarana olahraga. Tidak terbatas cabang sepakbola. Banyak cabang tertentu merasa kesulitan saat mencari tempat pertandingan berskala nasional. Sebut saja cabang karate, pencak silat, tinju, wushu dan taekwondo. Terlebih setelah gedung Go Skate di Jln Embong Malang Surabaya lebih memilih disewakan untuk kegiatan musik, bisnis dan kegiatan keagamaan. Tidak jarang menggelar kegiatan olahraga skala nasional di sebuah gedung kumuh. Apa daya, kondisi sarana olahraga saat ini di Surabaya baru sebatas itu.
Pertumbuhan atlet di luar sepakbola perlu mendapat perhatian semua pihak termasuk Pemkot dan KONI. Lebih-lebih Surabaya dijuluki Kota Atlet. Sekitar 60 persen atlet yang membela kontingen Jatim di PON XVI dan XVII berasal dari Surabaya. Semua mereka mengharap fasilitas ditingkatkan. Mereka pun yakin dengan latihan keras dan sarana lengka, niscaya perstasi mampu dicapai. Stadion Bung Tomo kelak harus menjadi kebanggaan warga kota sekaligus ajang meraih prestasi.
Bung Tomo adalah sosok pahlawan yang lahir dan berjuang di kota Surabaya. Layak nama beliau diabadikan pada sebuah karya besar anak bangsa seperti stadion yang akan dibangun di Pakal. Kota Surabaya pun sejauh ini sudah banyak melahirkan atlet berprestasi internasional dan layak dijuluki pahlawan olahraga. Ditulis oleh: SP Gultom (Wartawan Koran DOR)
November 28, 2008 at 3:01 AM tanpa bermaksud mempengaruhi dewan juri, tulisan ini mantaaaap...