Idealisme Pemuda Jadi Tumpuan
⊆ 15:23 by admin | NEWS . | ˜ 0 comments »
Pemuda menjadi sosok kunci dalam berbagai keputusan politik yang menyangkut hajat hidup bangsa Indonesia, termasuk proses politik pemilihan umum, baik pemilihan legislatif, pemilihan presiden maupun pemilihan kepala daerah (pilkada). Status sebagai agen perubahan itu disebutkan H Saleh Ismail Mukadar dikarenakan ada indikator khusus yang dimiliki pemuda dan tak dipunyai 'generasi tua'.
"Indikator pertama adalah pemuda merupakan potensi yang sangat luar biasa, sangat energik, memiliki semangat meluap-luap dan mampu bekerja ekstra keras. Ini potensi yang tak dimiliki generasi lain," kata Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya itu saat Seminar Kebangsaan bertema "Pengaruh Etnis Pemuda dalam Perolehan Suara Pemilu di Jatim" di Kampus Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Minggu (01/11) pagi.
Indikator berikutnya adalah jumlah pemuda paling banyak. Dalam struktur populasi, persentase pemuda jika dikategorikan pada usia 17-35 tahun bisa mencapai 60 persen lebih angka populasi. Dan terakhir pemuda sebagai pemilih pemula dalam pemilihan umum masih memiliki idealisme, masih murni, belum tercemar kepentingan-kepentingan politik yang sesaat dan cenderung kotor. "Jika partisipasi pemuda bisa maksimal maka saya yakin kondisi bangsa dan negara ini menjadi jauh lebih baik," papar Saleh yang juga Ketua Komisi E (bidang Kesra) Jatim ini.
Sayangnya, pemuda pula yang disebut-sebut aktif melakukan kampanye gerakan golongan putih alias golput. Akibatnya angka partisipasi pemuda dalam kebijakan politik menjadi sangat rendah. Menurut Saleh, ada dua kemungkinan kenapa angka golput di kalangan pemuda relatif tinggi. Bisa jadi karena yang bersangkutan buta politik, tidak mau tahu kondisi politik di Indonesia, hanya memikirkan diri sendiri dan sibuk dengan statusnya sebagai 'generasi kontemporer'. Kemungkinan kedua adalah pemuda yang melek politik namun memiliki sikap apatis dan emoh terlibat dalam proses politik karena melihat kondisi real politik di Indonesia yang mereka nilai kotor dan banyak kebohongan publik.
"Terus terang saya maklum jika pemuda apatis dengan pemilihan umum. Banyak partai, calon kepala daerah atau calon legislatif yang mengobral janji-janji saat musim kampanye tiba, setelah menang atau terpilih lupa akan janjinya. Hanya mengurus partainya dan dirinya sendiri saja. Ini yang membuat pemuda apatis karena hanya janji-janji yang mereka terima saat kampanye tidak ada yang terpenuhi. Meski golput adalah pilihan, tapi dengan golput, persoalan bangsa tetap tak bisa diselesaikan," ungkapnya.
Sistem politik dan kepartaian di Indonesia saat ini juga bisa menjadi pemicu yang akhirnya menimbulkan fenomena golput. Pemilu 2004 lalu yang diikuti 24 partai politik saja sudah menjadikan cost politik sangat tinggi, sementara hasilnya tak bisa banyak dirasakan oleh masyarakat. Sekarang pada Pemilu 2009, jumlah partai politik membengkak menjadi 38 partai. Ini membuat cost politik tentu akan semakin besar.
"Janji-janji politik akan semakin banyak yang ditawarkan berikut biayanya. Ini membuat rakyat menjadi pragmatis. Ada duit ya saya pilih, tidak ada duit ya saya diam saja di rumah. Apa kondisi seperti itu yang kita inginkan? Jangan heran jika dengan model pemilihan langsung, nanti ada penjahat jadi pemimpin, karena dia memiliki sumber capital yang tidak terbatas dan digerojokkan kepada masyarakat kita yang cenderung pragmatis," cetus Saleh.
Melihat kondisi realitas politik saat ini, Saleh banyak berharap pada kiprah pemuda. Jika saat ini banyak pemimpin yang bekerja karena mencari jabatan atau menumpuk kekuasaan maka pemuda tak boleh putus asa. Harus tetap idealisme, terus berjuang dengan ketulusan dan tanggung jawab dalam rangka memperbaiki kondisi sosial, ekonomi dan politik masyarakat. "Founding father kita sudah memikirkan nasib bangsa ini sejak mereka masih usia remaja. Saatnya sekarang pemuda berkerak ke depan, meniru jejak langkah para founding father republik ini." (sak)
0 Responses to Idealisme Pemuda Jadi Tumpuan
= Ada Komentar?