Bamusi, Poros Tengah Perjuangan Sosial

⊆ 11:23 by admin | . | ˜ 0 comments »

Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi), wadah sosial keagamaan yang dibentuk PDI Perjuangan bersama Nahdatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah sengaja didesain agar mampu menjadi poros tengah perjuangan sosial kemasyarakatan yang selama ini masih terkesan ada dikotomi dan terkotak-kotak. "Kami punya keinginan umat muslim di Indonesia bersatu saat melakukan kegiatan sosial kemasyarakatan. Tak peduli dia NU atau Muhammadiyah atau organisasi Islam lainnya, tapi hanya satu tujuan memberi pencerahan pada masyarakat," kata H Saleh Ismail Mukadar SH, Penasehat Bamusi Kota Surabaya.

Pernyataan tersebut disampaikan Saleh saat memberikan sambutan di acara Tabligh Akbar / Dzikir di Masjid Husnul Khotimah Jl Tembok Dukuh Surabaya, Minggu (02/11) malam. Hadir dalam acara yang diselenggarakan Pemkot Surabaya dan Bamusi Kota Surabaya itu ratusan jamaah yang memenuhi halaman masjid serta ceramah utama yang disampaikan Prof Dr KH Said Agil Siradj MA, Wakil Ketua PB NU yang juga Penasehat Bamusi Pusat.

Menurut Saleh, Bamusi bisa menjadi jembatan umat muslim di Indonesia yang selama ini terkotak-kotak dan menimbulkan dikotomi. Bamusi sendiri dibidani secara resmi oleh ormas Islam besar di Indonesia, NU dan Muhammadiyah. Termasuk kelahirannya di Surabaya. "Bahkan pengurus Bamusi Surabaya, baik yang dari NU maupun Muhammadiyah diberangkatkan secara resmi oleh organisasinya masing-masing," paparnya.

Kiprah Bamusi Surabaya sendiri sudah lumayan bagus. Bahkan pada awal pendiriannya April lalu, Bamusi Surabaya berhasil melakukan nikah massal pada 650 pasangan pengantin di Kecamatan Semampir Surabaya. Itu dilakukan setelah melihat kondisi di masyarakat yang banyak tidak memiliki surat nikah padahal sudah memiliki anak. Akibatnya bagi sang anak tidak memiliki akta kelahiran dan ini menyulitkan mereka untuk sekolah.

"Ini satu dari sekian banyak persoalan sosial yang ada di depan mata. Jika Bamusi bisa berkiprah secara maksimal, Insya Allah kita bisa sedikit membantu Pemkot Surabaya sebab masih banyak problem sosial kemasyarakatan disekitar yang bisa kita tangani secara bersama," jelas Saleh.

Bamusi memiliki visi dan misi untuk membantu masyarakat bawah tanpa memandang latar belakangnya. Ide itu menurut Saleh seperti yang terjadi di Lebanon. Sekitar 10 tahun silam, jika mencari orang paling miskin, mencari orang yang paling bodoh dan mencari kawasan yang paling kumuh maka tempatnya ada di Lebanon Selatan. Namun melalui Hizbullah, mereka merubah pola pikirnya, bahwa untuk urusan akidah memang harus tegas sesuai Alquran dan Hadits, sedangkan untuk urusan sosial maka nilai-nilai universial yang digunakan.

"Allah mengajari kita untuk berbuat baik dengan siapa saja, tidak melihat apakah dia beragama Islam atau tidak. Kita diajari untuk menerima tamu dengan baik tanpa bertanya agamanya apa. Cilakanya kita sendiri yang masih membeda-bedakan sesama. Di Lebanon, Hizbullah melakukan kegiatan sosial untuk semua orang, membangun rumah sakit untuk semua pasien, mendirikan sekolah untuk umum. HIzbullah dicintai semua orang termasuk warga Lebanon yang non muslim," papar Saleh.

Berkaca pada sukses Hizbullah bersama rakyat Lebanon Sekatan tersebut, Saleh berharap banyak agar Bamusi mampu melakukan hal yang sama. "Bamusi harus menjadi jembatan dan poros tengah, tidak ada sekat-sekat dan pengkotakan, untuk bersama-sama bahu membahu melakukan kegiatan sosial kemasyarakatan." (sak)

0 Responses to Bamusi, Poros Tengah Perjuangan Sosial

= Ada Komentar?