Sayang, Bambang DH Tak Boleh Nyalon Lagi

⊆ 12:57 by admin | , . | ˜ 0 comments »

19 April 2008
Surabaya - Naskah ini pernah dimuat di Harian Radar Surabaya, Jumat, 18 April 2008 pada kolom: Menegakkan Akal Sehat.

Sudah agak lama saya ingin membuat tulisan yang isinya memuji Wali Kota Surabaya Bambang DH. Tapi saya masih menunggu apakah prestasiitu hanya prestasi sesaat atau prestasi yang didasari pemikiran yang fundamental. Kini, saatnya saya menuliskan pujian itu. Toh, tidak akan ada yang menilai bahwa saya ingin Bambang DH bisa jadi wali kota lagi, mengingat secara hukum dia sudah tidak boleh nyalon. Seandainya peraturan itu berubah, saya ingin mendukung pencalonannya kembali.

Ada juga penyebab lainyang membuat saya menunda-nunda menulis pujian saya kepada wali kota yang berasal dari PDI Perjuangan ini. Yakni, kejengkelan saya bahwa pembangunan frontage road di Ahmad Yani tidak juga terwujud, meski janjinya sudah lewat. Juga penataan reklame pinggir jalan yang sudah merusak keindahan kota yang dia sendiri menciptakannya.

Tapi saya tetap harus mengakui bahwa secara umum prestasi Bambang DH sangat membanggakan. Sebagai pemimpin, dia bisa mengakomodasikan orang-orang berprestasi seperti Ibu Tri Rismaharini. Juga bisa memilih orang yang tepat untuk menangani perusahaan daerah seperti Ir. Ahmad Ganis Poernomo yang menjadi direktur utama Perusda Pasar dan Ir. Muhammad Selim yang menjadi direktur utama PDAM.
Kadang, kelebihan seorang pemimpin justru ketika ia memberikan keleluasaan pada stafnya yang punya kemampuan untuk mewujudkan prestasinya sebaik-baiknya. Kelihatannya tidak masuk akal sehat ”kok pimpinan membiarkan stafnya”. Tapi, dalam hal memperlakukan anak buah yang punya prestasi, justru sikap membiarkan itu yang terbaik. Tentu bukan berarti lepas tangan sama sekali.

Seorang staf yang mampu, kalau terlalu banyak dicampuri, justru akan serba salah. Lalu frustasi dan tidak akan bisa maksimal. Kita lihat dalam kasus penataan kota, pengelolaan pasar, dan penanganan air minum, terasa sekali Bambang DH memberikan otoritas yang cukup kepada mereka.

Tentu saya tidak tahu yang terjadi sebenarnya. Tapi dari luar bisa terbaca demikian. Ini karena saya sendiri juga sangat terbiasa memberikan otoritas yang maksimal kepada staf yang memiliki kemampuan di bidangnya.

Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mampu menciptakan situasi di lingkungan anak buahnya untuk berprestasi. Lalu orang-orang yang berprestasi tersebut merasa kerasan di lingkungan kepemimpinannya. Bukan pemimpin yang cemburu kepada anak buah karena takut disaingi. Saya sering melihat banyaknya orang pandai di instansi, namun prestasi instansi itu tidak menonjol. Ini karenaiklim yang dibangun adalah yang tidak bisa membuat orang-orang pandai tersebut berprestasi.

Dari jalannya akal sehat seperti itu, saya menilai meskipun penataan dan keindahan kota adalah prestasi Ibu Risma, namun tanpa mendapat pemimpin diatasnya yang memungkinkan untuk itu, orang seperti Ibu Risma tidak akan bisa mewujudkan idealismenya. Saya juga mendengar selentingan bahwa Ibu Risma masih kurang puas karena belum maksimal benar. Namun, seandainya mendapatkan atasan yang bukan Bambang DH mungkin justru lebih payah lagi akibatnya. Dan sejauh ini Bambang kelihatan rela-rela saja Ibu Risma menjadi idola warga Surabaya tanpa harus merasa kalah populer.

Dalam hal penataan kota ini, belum pernah ada sepanjang sejarah Surabaya, ada wali kota yang berani menutup stasiun-stasiun pompa bensin untuk diubah menjadi taman kota! Dalam hal mengatasi banjir kota, usaha di era Bambang DH juga terlihat lebih mendasar sifatnya. Dia tidak hanya bicara menyalahkan warga yang membuang sampah sembarangan, tapi lebih memfokuskan diri pada infrastruktur yang telah usang, yang tidak memadai lagi untuk mengatasi banjir. Usaha ini memang memakan waktu tidak cukup dua tahun. Anggaran yang terbatas membuat program ini menjadi program multiyears. Namun, secara bertahap terlihat langkah mendasar yang dilakukan. ”Sungai” di sekitar Embong Malang – yang selama ini sudah praktis hilang – ternyata bisa ditemukan kembali dan dibersihkan. Parit-parit yang sudah ketinggalan zaman di daerah sekitar Jalan Kutai dibuat baru dan dikoreksi secara radikal. Gorong-gorong baru dibangun terus melintas jalan raya yang sudah terlalu rendah.

Di Kendangsari, Tenggilis, Ketintang Baru, dan daerah-daerah lain juga dilakukan normalisasi saluran. Ini menadakan bahwa langkah yang diambil merupakan langkah yang mendasar, yang hasilnya barang kali baru akan dinikmati setelah dia tidak menjabat wali kota lagi. Kepala daerah yang mau berpikir mendasar dan melaksanakan program yang dampaknya panjang seperti inilah yang kini langka. Terutama sejak semua orang berpikir pendek hanya untuk bisa memenangkan pilkada terdekat.

Yang Bambang DH paling berakal sehat adalah ketika ia menertibkan pedagang kaki lima. Secara emosi mestinya Bambang tidak mau melakukan itu. Bambang adalah pemimpin PDI Perjuangan yang massanya kebanyakan wong cilik. Secara emosi Bambang akan berat melakukan penertiban pedagang kaki lima. Tapi secara akal sehat dia harus melakukan itu. Dan dia melakukannya! Dia tetap menengakkan akal sehat yang ada padanya.

Sayang, Bambang tidak bisa dipilih kembali meski sebenarnya dia belum bisa dikatakan sepenuhnya menjadi wali kota selama dua periode! Periode pertama Bambang kan hanya meneruskan jabatan Sunarto Sumoprawiro yang dijatuhkan di tengah jalan.

0 Responses to Sayang, Bambang DH Tak Boleh Nyalon Lagi

= Ada Komentar?