Pewarisan Sejarah PDI Perjuangan

⊆ 17:43 by admin | . | ˜ 0 comments »

18 Agustus 2007
Surabaya - SEBELAS tahun Tragedi 27 Juli 1996 baru lewat diperingati warga PDI Perjuangan. Peringatan itu menyisakan kegelisahan, sejauh manakah kesadaran sejarah atas tragedi itu selalu dirawat, dan tak kalah mendesak: mewariskan pada angkatan penerus?
Bagi PDI Perjuangan, tragedi itu menjadi titik hijrah, dari PDI lama yang tunduk pada rezim Orde Baru menuju kekuatan politik baru yang berani berjarak dengan negara. Jutaan individu melebur dalam wadah pergerakan PDI pro-Mega, yang melahirkan PDI Perjuangan. Kristalisasi itu lahir akibat pergolakan sejarah!

Kini, telah jadi isu santer, bahwa semangat dan komitmen masa lalu tidak lagi menjadi roh perjuangan saat ini. Yang mencemaskan, 10-15 tahun kelak akan lahir generasi politik baru. Pada waktunya mereka memimpin partai ini. Angkatan yang bukan saja tak ingat, tetapi tidak terlibat pergolakan sejarah itu. Masa sekarang dan masa depan terancam terputus dari masa lalu.
Bukan Partai Notaris
Tragedi 27 Juli 1996 mewariskan sejarah, bahwa partai ini tegak karena daya juang dan pengorbanan anak-anaknya. Mereka terpanggil bukan karena dana triliunan rupiah, atau mimpi menjadi anggota legislatif. Daya juang itu menyala karena mempertahankan kedaulatan, harga diri, dan martabat partai.

Itulah isu dasar gerakan PDI pro-Megawati sejak Kongres Luar Biasa, 1993, di Asrama Haji Surabaya, hingga berpuncak Tragedi 27 Juli 1996 untuk melawan kongres gadungan di Medan rekayasa Orde Baru. Anak-anak partai saat itu bak mengukuhi nilai: sak dumuk bathuk, sak nyari bumi. Sejengkal tanah, nyawa taruhannya.

Tempo hari, di Surabaya, Ketua Dewan Pertimbangan Pusat, Taufik Kiemas, memberi rumusan tepat. Bahwa PDI Perjuangan didirikan dengan darah, keringat dan air mata. Inilah pembeda dengan partai-partai yang lahir belakangan melalui akta notaris.

Angkatan pergerakan saat itu biasa mengambil pilihan gila. Bambang DH, Walikota Surabaya, misal. Ia berani meninggalkan kehidupan mapan sebagai guru dan dosen. Ia memilih ajur-ajer dalam pergerakan pro-Mega di Posko Pandegiling, hidup menggelandang, tanpa masa depan.

Di antara mereka merasa digembleng sejarah, sehingga memiliki mental gigih dalam mengatasi kesulitan. Mereka sungguh-sungguh memegang teguh komitmen juang di masa lalu, karena itu selalu menjaga kesadaran sejarah.

Namun, tak sedikit dari angkatan itu yang keblinger, hanyut oleh kekuasaan, lantas lupa diri. Tak hirau derita rakyat. Harus diakui, saat pergerakan, partai ini memberi tempat luas bagi pelaku-pelaku pemberani, tanpa dasar ideologi, karena itu di kemudian hari mudah melupakan sejarah.

Ketika tokoh pergerakan partai, Sutjipto, kalah dengan orang luar yang berlatar birokrat, dalam perebutan suara arus bawah PDI Perjuangan untuk pencalonan gubernur Jawa Timur, saya terpukul sedih. Pak Tjip, senopati ulung barisan Megawati, tidak lagi dipandang kaum penerusnya.

Sejarah memang sering memangsa pelakunya sendiri. Ini bisa terjadi karena anak-anak jaman kehilangan kesadaran sejarah. Watak, komitmen dan roh perjuangan masa silam makin rapuh, lalu hancur! Tidak memberi inspirasi apalagi menjadi amanat perjuangan di masa kekinian.

Dua Ancaman

Seiring menjauhnya waktu, merawat kesadaran sejarah dan pewarisan pada kaum penerus, selalu tak mudah. Ingatan atas masa lalu semakin tipis. Bagi PDI Perjuangan, problem itu makin berat karena tidak pernah punya tradisi pewarisan sejarah. Selama 32 tahun rezim Orde Baru, ajaran Soekarno diberangus. Para anak-cucu marhaen terus dikerdilkan.

Selama kurun itu, pewarisan ajaran dan sejarah kaum nasionalis dihalangi tumbuh. Cara yang tersedia hanyalah tutur-tinular. Tradisi lisan ini terus berlanjut sampai kini. Pengisahan masa lalu dan rekonstruksi kesadaran sejarah terlajur biasa dilakukan melalui pidato pada rapat-rapat umum.

Tradisi lisan sangatlah kering. Mudah terjebak dogmatisme, dan bergantung tokoh. Sehingga pewarisan berlangsung top down, dari atas ke bawah. Maka, mesti dicari metode-metode kreatif. Metode yang membuka ruang luas bagi keterlibatan arus bawah, termasuk keleluasaan menafsir sejarah itu sendiri.

Di masa depan, selain bertumpu pada kekuatan massa, PDI Perjuangan harus disangga kekuatan kader yang militan, paham tanggungjawab sejarah dan memiliki visi ideologis. Para kader yang menjaga api kesadaran, di masa lalu, partai ini ditegakkan dengan pengorbanan dan daya juang luar biasa. Harga diri, kedaulatan dan martabat partai adalah harga mati.

Penting diingat, kegagalan pewarisan sejarah akan melahirkan dua ancaman serius. Pertama, hilangnya PDI Perjuangan dari peta politik di negeri ini. Tidak ada kekuatan militan yang bersedia “kerja gila” untuk merebut hati rakyat. Mesin politik macet. Jajaran partai sibuk urusan masing-masing. Bahkan tak hirau ancaman kehancuran itu.

Sungguh, tidak mudah membangun rumah besar kaum nasionalis. Dua kali Pemilu terakhir, berapa saja partai politik nasionalis yang seumur jagung. Kehancuran PDI Perjuangan berimplikasi pada berubahnya peta politik di negeri ini. Tentu saja ini mengancam soal-soal dasar republik ini: mempertahankan NKRI, Pancasila dan pluralisme, yang dihayati sebagai tugas sejarah PDI Perjuangan.

Ancaman kedua, partai dipimpin pelaku-pelaku yang mudah mengabaikan kehormatan, martabat dan harga diri partai. Mereka tak paham sejarah, atau sengaja lupa sejarah. Lupa partai ini dibangun dengan darah, keringat dan air mata. Mudah menjual partai untuk pragmatisme: kuasa, uang dan menang!
Betapa berbahaya jika partai besar ini dipimpin pelaku-pelaku semacam itu?

***Penulis adalah Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya.

0 Responses to Pewarisan Sejarah PDI Perjuangan

= Ada Komentar?