Persebaya Deadline 9 Desember
⊆ 21:53 by admin | NEWS , OLAHRAGA , PERSEBAYA . | ˜ 1 comments »
Surabaya - Ketua Umum Persebaya H Saleh Ismail Mukadar SH memberikan deadline alias batas waktu hingga Selasa (9/12) kepada para pemain untuk berpikir dan menerima kebijakan rasionalisasi kontrak. Pernyataan ini disampaikan Saleh, setelah pertemuan antara pengurus, manajemen dan pemain selama satu jam di Wisma Persebaya, Kamis (4/12) siang belum mendapatkan titik temu. “Mereka mengaku masih akan mikir-mikir dulu. Karena itu, kami beri waktu hingga Selasa (9/12) mendatang untuk bersikap,” ujar Saleh Mukadar usai pertemuan.
Dalam pertemuan yang dihadiri Ketua Umum Persebaya Saleh Mukadar, Cholid Goromah (Ketua Harian), Hendri (Bendahara), Saleh Hanifah (Asisten Manajer), Freddy Muli (pelatih) dan pemain, minus manajer tim Indah Kurnia yang ikut pembekalan caleg DPR RI di Jakarta, ada salah satu ide dari pemain yang kini masuk dalam daftar pertimbangan pengurus dan manajemen. Saleh Mukadar mengungkapkan, pemain menawarkan rasionalisasi hanya dilakukan pada sisa gaji, terhitung mulai Nopember. “Pemain menawar agar yang dirasionalisasi adalah sisa gaji pemain yang belum dibayar, terhitung mulai bulan Nopember. Tapi entah kita akan menggunakan opsi kita, opsi mereka atau opsi yang lain, tunggu 9 Desember nanti,”tandasnya.
Saleh Mukadar yang juga Ketua Komisi E DPRD Jatim ini menuturkan, sebelumnya pengurus berencana memberlakukan rasionalisasi kontrak 0 hingga 22 % dari keseluruhan nilai kontrak. Namun, bila kedua langkah tersebut tidak menemui jalan tengah, maka opsi terakhir adalah pengurus dan manajemen akan mengambil keputusan sepihak. Tapi menurut Saleh, hal itu adalah langkah terakhir dan yang paling buruk. Dirinya berharap pada pertemuan lanjutan, akan didapatkan hasil akhir yang tentunya menguntungkan kedua belah pihak. “Itu opsi terburuk dari pengurus. Tahun ini tak masalah saya dihujat, tapi ke depan (2-4 tahun lagi) bisa mencetak pemain. Daripada sekarang juara, tapi mati di tengah jalan. Apalagi, tanggungjawab saya masih lima tahun ke depan,” tegas Saleh.
Untuk itu, lanjut Saleh, hingga batas waktu Selasa (9/12) akan dilakukan pembicaraan dengan pemain face to face dengan semua pemain. “Saya akan menugaskan beberapa orang dari pengurus maupun manajemen untuk melakukan itu. Jika pemain belum paham, bisa bertanya,” imbuhnya. Lebih jauh Saleh menuturkan, kebijakan rasionalisasi harus dilakukan karena untuk menyelamatkan Persebaya. Sebab neraca keuangan Persebaya tak seimbang. Rata-rata pemasukan total hanya Rp 269.223.000, sedang pengeluaran Rp 1.163.411.666. Jadi tiap bulan Persebaya butuh dana talangan Rp 894.188.666.
“Soal kebijakan rasionalisasi itu jika memang ada yang nggak setuju, itu hak mereka. Tapi perlu diingat, langkah rasionalisasi yang kami ambil tidak seekstrim klub-klub lain," kata Saleh merujuk pada pilihan yang sama yang ditempuh Persik Kediri. Manajemen Macan Putih, memberlakukan rasionalisasi 60 persen. Itu yang membuat beberapa pilar klub peraih dua trofi Liga Indonesia ini, hengkang dari Kediri. Menurut Saleh, pihak pengurus ingin bijak dengan hasil ideal bisa dicapai. Artinya, pemain bisa memahami penderitaan pengurus Persebaya. Di sisi lain, pengurus ingin pemain tetap utuh. Tak ada yang pergi atau hengkang. Jika Selasa (9/12) nanti tetap tak ada titik temu, lantas bagaimana jika pemain melakukan eksodus, Saleh menuturkan, ya, itu opsi terburuk yang akan diambil pengurus. “Tapi saya berharap pemain tetap utuh di Persebaya,” tandasnya.
December 9, 2008 at 2:20 PM “Every beginning is difficult,” setiap hal baru pasti sulit. Begitulah pesan para businessman kepada entrepreneur muda.
Pesan tersebut menjadi relevan dengan kondisi Persebaya saat ini, yang sedang mengalami perubahan dari kondisi lama yang banyak di dukung oleh dana APBD menuju era baru yang mau tidak mau harus tidak tergantung dengan dana APBD.
Sebagai warga kota Surabaya sekaligus pendukung Persebaya (ini saya lakukan dengan membeli tiket pertandingan Persebaya di Tambaksari, di saat saya ada waktu senggang), saya bersyukur bahwa saat ini jajaran Pengurus dan Manajemen Persebaya di pimpin oleh tokoh-tokoh yang bermental juara (Winner) bukan sebaliknya bermental cari selamat (survivor).
Karena mereka yang bermental survivor, cenderung bertindak sebagai safety players, enggan mengambil langkah-langkah baru, menghindari resiko, dan cenderung bersembunyi di balik kamarnya, daripada keluar dan menjadi sorotan banyak orang.
Bermental Survivor sama aja dengan bermental kura-kura. Ia adalah hewan yang cenderung bermain aman dengan menarik lehernya dalam-dalam, menyembunyikan kepala kedalam “rumahnya” begitu ia merasa terancam.
“Winners play to win” sedangkan”Survivors play to not lose,” begitu kata ahli psikologi sport Dr.Jack H Llewellyn. Mentalitas kura-kura yang demikian tentu saja hampir tak ada bedanya dengan bunglon yang merubah warna untuk selamat, atau cecak yang membiarkan ekornya putus asal tidak mati.
Play not to lose, artinya bekerja sekedar agar tidak kehilangan, sekedar hidup, bertahan,aman, tidak berani menantang kehidupan baru, menantang status quo, mengambil jalan yang mudah-mudah saja.
Dalam situasi kini tentu saja akan banyak ditemui orang-orang seperti ini.
Ketika ribuan orang kehilangan pekerjaan, orang-orang yang tertinggal tidak jarang berpikir mereka akan kena giliran berikutnya. Mereka menjadi survivors yang cenderung mengambil sikap cari aman. Padahal sesungguhnya mereka adalah winners yang harusnya mengambil sikap untuk terus unggul dan berani untuk maju. Mungkin karena sejak kecil kita lebih dilatih untuk “survive.”
Otak kita terprogram untuk “play to not lose” ketimbang jadi pemenang.
Buruh mengumpulkan teman-teman dengan berdemo agar tidak di-PHK-kan, bukan memperbaiki produktivitas sehingga perusahaan sehat, untungnya bisa dibagi rata. Mahasiswa mental kura-kura juga melakukan cara yang sama, mengorganisir teman-teman melakukan tekanan agar tidak di drop-out, bukan melalui peningkatan prestasi sehingga universitas tidak bisa mencari alasan untuk mengeluarkan mereka.
Eksekutif kura-kura sama saja.
Menjadi pemenang (Winner) tentu saja punya game yang tidak sama dengan menjadi survivor. Memahami apa isi hati dan pikiran orang lain jelas merupakan point penting untuk menang.
Anda boleh saja tidak setuju dengan pandangan-pandangan diatas, tetapi itulah kenyataan yang diperoleh oleh para pemenang dalam kehidupan ini. Mereka menang bukan karena fisik mereka lebih kuat, tetapi karena mereka punya belief yang kuat sebagai pemenang.
Kura-kura bukanlah pemenang, ia cuma cari selamat saja.