Apa Kabar Surabaya Sport Center?
⊆ 13:12 by admin | NEWS , OLAHRAGA . | ˜ 0 comments »
Surabaya Sport Center (SSC) sudah lama terdengar di telinga masyarakat. Awalnya wacana, tapi seiring dengan waktu, wacana itu bergulir menjadi sebuah rencana. Tidak mulus memang, karena muncul tanggapan pro dan kontra.
Setidaknya dua tiga tahun lalu SSC digelindingkan sebagai konsumsi pemberitaan yang memunculkan reaksi pro dan kontra masyarakat. Ya, hanya sebatas itulah. Tidak lebih. Tapi SSC makin gencar sebagai topik tentang sebuah megaproyek pembangunan sarana olahraga di Surabaya.
Tepatnya di kawasan Pakal, Benowo, Surabaya Barat, proyek itu direncanakan, dan bahkan sudah ditancapkan tanda pembangunannya. Toh, itu tidak segera ada aksi besar-besaran di lokasi. Masih saja terjadi tarik ulur di level legislatif dan eksekutif. Pro dan kontra masih mewarnai pembangunan SSC yang diplot bernama Gelora Bung Tomo (GBT) itu.
Ketika Gubernur DKI Ali Sadikin (saat itu, Red) memunculkan gagasan dan proyek Taman Mini Indonesia Indah (TMII), muncul pro dan kontra. Tapi Bang Ali jalan terus. Toh TMII saat ini menjadi salah satu fasilitas yang patut dibanggakan warga DKI Jaya.
“Pro dan kontra saya pikir hanya sesaat, tetapi kelak yang menikmati pembangunan adalah generasi berikutnya. Kami ingin SSC segera terwujud. Bukan apa-apa, tetapi predikat Surabaya ‘kota atlet’ adalah sebuah ironi jika kita sendiri tidak memiliki sarana dan prasarana yang memadai,” ujar mantan Ketua Umum KONI Surabaya yang juga anggota DPRD Jatim, Saleh Ismail Mukadar.
Mengapa megaproyek pembangunan sarana olahraga di kawasan Surabaya Barat itu tidak kunjung menampakkan sebuah karya nyata? Artinya, dibutuhkan pemahaman, kesadaran atau sinergi dari berbagai elemen masyarakat. Jika tidak, ya sudah SSC akan sulit direalisasikan alias akan tetap teronggok sebagai bangunan-bangunan setengah atau bahkan seperempat jadi. Seperti halnya beberapa mal, plasa dan gedung-gedung pencakar langit di bumi Surabaya ini.
Padahal, jika SSC GBT itu terealisasi, setidaknya akan lebih mempercepat pembangunan Surabaya wilayah barat dan utara. Kawasan tersebut relatif tidak seperti rekan-rekannya di timur, selatan atau bahkan pusat. Padahal, lahan di sana masih memungkinkan untuk pengembangan Surabaya.
Berkaca pada sukses Thailand menggelar SEA Games 2007 silam di salah satu propinsinya yakni Nakhon Ratchasima, bolehlah Surabaya meniru sepak terjang propinsi tersebut. Sebagian pengurus dan anggota dewan kota Surabaya juga ikut berkunjung ke sana.
Mereka tahu sendiri dan mengorek banyak dari petinggi Nakhon Ratchasima yang dalam waktu sekitar dua tahun mampu mewujudkan sebuah kompleks olahraga terpadu. Padahal Nakhon jauh lebih sepi dan kecil dibandingkan Surabaya. Tapi Thailand memang mau dan mampu mengembangkan salah satu propinsinya itu agar lebih mendunia.
Sebuah kompleks sarana olahraga terbangun di pinggiran kota Nakhon, tetapi beberapa sarana olahraga lainnya juga disebar di beberapa wilayah kota. Pengurus KONI Surabaya dan beberapa anggota DPRD Surabaya yang kala itu ikut ke sana pun manggut-manggut. Kagum, tentunya.
Tapi Nakhon Ratchasima hanya sebuah potret. Surabaya adalah kota terbesar kedua Indonesia setelah Jakarta. Sudah selayaknya memiliki kompleks olahraga terpadu dan lengkap. Rencananya, SSC juga dilengkapi fasilitas hotel maupun rumah sakit, serta akses jalan yang memadai.
Jangan jauh-jauh ke Thailand. Dibandingkan dengan beberapa propinsi di negeri ini, seperti Sumsel, Kaltim, atau bahkan Riau yang akan menjadi tuan rumah PON XVIII/2012. Mereka justru selangkah lebih sigap dalam membangun sebuah kompleks olahraga terpadu.
Kaltim yang baru saja menjadi tuan rumah PON XVII/2008 adalah figur daerah yang patut diacungi jempol. Lahan di Palaran, Samarinda Seberang, yang kala itu masih berupa bukit-bukit dan semak-semak, ‘disulap’ menjadi kawasan olahraga terpadu adalah wujud nyata dari sebuah kompleks olahraga modern dan lengkap. Bahkan Kaltim dengan bangganya menyatakan kesiapannya jika ditunjuk menjadi tuan rumah SEA Games 2011.
Nah sekarang, Surabaya ada apanya dibandingkan dengan mereka? Padahal, ’Kota Pahlawan’ ini mentahbiskan dirinya menjadi ‘kota atlet’. Prosentase sumbangan atlet, prestasi maupun medali bagi propinsi Jatim lebih dari 70 persen. Tapi ironinya, Surabaya belum memiliki sarana dan prasarana olahraga lengkap dan terpadu atau sebut saja memadai.
Beberapa fasilitas olahraga yang ada di kota ini pun terancam tergusur. Bahkan di antaranya sudah lepas dari genggaman. Sebut saja GOR Pantjasila yang sudah bukan aset Pemkot lagi. Lapangan bisbol dan sofbol serta beberapa yang lain pun tak luput incaran pihak lain.
Akankah SSC GBT yang di-gadhang-gadhang menjadi sarana olahraga terpadu, termegah dan terlengkap di Indonesia, hanya ada di angan-angan, tanpa bisa direalisasikan? Adalah menjadi tanggung jawab warga Surabaya. Dan agar proyek itu terealisasi, yang lebih penting adalah keterbukaan dan kejujuran. (*) (Oleh: Edi T. Jatmiko - Wartawan Surabaya Post)
0 Responses to Apa Kabar Surabaya Sport Center?
= Ada Komentar?