Pemerintah Tak Boleh Ikut Campur

⊆ 17:01 by admin | , , . | ˜ 0 comments »

SURABAYA-JAWAPOS - Sepak bola tengah terjerat krisis finansial. Karena itu, harus segera ditemukan solusi untuk memperbaiki iklim sepak bola yang semakin terpuruk. Latar belakang itulah yang membuat Pengcab PSSI Surabaya/Persebaya mengadakan diskusi bertajuk "Menuju Persepakbolaan Profesional" di Rumah Makan Taman Sari kemarin sore (21/11).
Ada dua narasumber dalam diskusi tersebut. Yaitu, Ketua Umum Pengcab PSSI Surabaya/Persebaya Saleh Ismail Mukadar dan Direktur Regional Kantor Perdagangan Pemerintah Australia Barat di Indonesia Martin Newbery. Kabagpora Kota Surabaya Hari Setyo Widodo menjadi fasilitator pertemuan itu. Diskusi tersebut juga dihadiri sejumlah pengurus Pengcab PSSI Surabaya, asisten manajer Persebaya Saleh Hanifah, dan beberapa pengurus klub internal Persebaya.

Newbery diundang dalam diskusi itu untuk membagi pengalaman tentang pengelolaan sepak bola secara profesional di negaranya. "Hal terpenting adalah mencabut campur tangan pemerintah dari dunia sepak bola Indonesia," tegasnya. Namun, melihat kasus di Indonesia, pemerintah harus tampil dulu sebagai penggerak, baru kemudian menyerahkan kepada swasta. "Semua yang menggerakkan sepak bola harus swasta. Pemerintah tidak boleh ikut-ikut. Itu seperti yang terjadi di Australia," ujar Newbery.

Dia mengatakan, semua klub di A League (liga profesional Australia), seperti Perth Glory atau Sydney FC, didanai oleh investor dan sponsor. Karena itu, prestasi menjadi hal penting untuk menarik minat investor dan sponsor menanamkan uang kepada klub tertentu. "Kalau ada klub juara di Australia, perusahaan-perusahaan yang ingin menjadi sponsor harus antre karena banyak peminatnya," tutur pria yang lancar berbahasa Indonesia itu. Namun, untuk menjadi klub profesional, segala penunjangnya harus disiapkan. Di antaranya, budaya profesional dan perilaku profesional dari para pelakunya. Dia mengisahkan, di Australia, iklim profesional ditumbuhkan sejak dini.

Perilaku profesional seperti menghormati lawan dan wasit serta tidak bermain curang ditanamkan kepada anak berumur 5-6 tahun. Itu berbeda dengan pelatihan di Indonesia, rata-rata diberikan untuk anak usia 12-13 tahun. Padahal, pada usia tersebut, banyak pengaruh luar yang mereka terima. Menanamkan nilai-nilai itu harus dengan contoh. "Tidak boleh lagi berdebat dengan wasit atau bermain curang. Sebab, hal itu akan ditiru oleh anak-anak yang akan menjadi pemain," jelasnya.

Satu hal terpenting dari merevolusi sepak bola menjadi profesional adalah penggarapan serius aspek marketing. Sebab, marketing adalah nyawa dari tim profesional. Menurut dia, dengan marketing yang bagus, masyarakat akan tergerak untuk mewujudkan sepak bola profesional. "Marketing ini adalah sebuah proses untuk membangun optimisme di masyarakat agar mereka ikut berperan memajukan sepak bola," urainya.

Selain memberikan gambaran profesionalisme sepak bola, Newbery menawarkan bantuan dari pemerintah negara bagian Australia Barat untuk Persebaya. "Kami tidak punya uang sebanyak itu untuk memberangkatkan orang dari Surabaya ke Perth. Tapi, kalau Persebaya mau memberangkatkan orang ke sana, kami siap memberikan materi pelatihan gratis. Atau, kalau tim Persebaya mau melakukan pertandingan persahabatan melawan Perth Glory, kami siap menanggung konsumsi dan akomodasi selama di sana. Tapi, tiket pesawatnya ditanggung sendiri," terangnya. Dia berharap, kalau kerja sama antara Australia Barat dan Persebaya terlaksana, Persebaya bisa menjadi pionir sepak bola profesional di Indonesia.

Sementara itu, dalam diskusi itu, Saleh curhat tentang kondisi aktual Persebaya. Mantan ketua umum KONI Surabaya tersebut mengatakan, saat ini Persebaya tengah didera krisis finansial karena tak ada lagi dana APBD. "Tapi, sekarang kita harus melihat ke depan untuk menyelamatkan Persebaya. Harus dibangun fondasi pengelolaan Persebaya tanpa APBD," tegasnya.

Mantan manajer Persebaya itu menuturkan, langkah strategis yang akan ditempuh Persebaya adalah melakukan rasionalisasi gaji pemain. "Kalau tidak dilakukan rasionalisasi, Persebaya bisa kolaps," ucap Saleh. Dia berencana membentuk tim tengguh dengan bibit-bibit yang sudah disiapkan sejak dini dari serangkaian kompetisi di level Pengcab PSSI Surabaya. (nar/ko) Sumber : Jawapos

0 Responses to Pemerintah Tak Boleh Ikut Campur

= Ada Komentar?