Gila Bola No, Tanggungjawab Yes
⊆ 01:41 by admin | KABAR POGOT , OPINI , PERSEBAYA . | ˜ 0 comments »
Pada tahun 2003, saya ditunjuk Pak Bambang DH selaku Ketua Umum Persebaya membantu menjadi manajer Persebaya. Padahal saya bukan saja orang gila bola tapi sama sekali tak tahu manajemen bola. Saya bukan pecandu.Tidak seperti orang lain yang rela begadang melihat pertandingan besar sampai pagi. Saya tetap nonton tapi kalau pas ngantuk ya tidur. Saya tidak memiliki pengetahuan tentang bola, tapi kemudian harus mengurus Persebaya.
KENAPA tanpa pengalaman saya sukses pertama kali menangani Persebaya bisa langsung juara Liga Indonesia pada 2004? Bagi saya tanggungjawab atau tugas yang saya pikul diatas segala-galanya. Tanggungjawab ini yang kemudian membuat saya bisa mengambil keputusan cepat dan penting untuk membentuk tim solid dan kemudian juara. Satu contoh, waktu itu saya hanya punya waktu pendek, di bulan November 2003, saya ingat pas puasa, saya hanya punya waktu dua minggu bersaing mencari pemain. Sementara hanya ada dana Rp 200 juta. Saya tanya teman-teman yang mengerti bola bahwa untuk membentuk tim minimal butuh Rp 10-15 miliar. Untuk belanja pemain sekitar Rp 8 miliar.
Sementara saya berpikir yang namanya sepakbola adalah permainan kolektif, bukan orang per orang. Karena kolektif maka semua lininya harus sama, kalau ingin tim sedang ya semua lininya sedang saja, kalau ingin timnya bagus ya harus semua lininya bagus. Jadi kalau mau juara ya harus semua pemainnya bagus. Alhamdulillah karena tanggungjawab, berbekal Rp 200 juta, saya berhasil membeli pemain terbaik saat itu. Saya ingat dengan persiapan hanya sebulan, Persebaya jadi runner-up Turnaman Bang Yos di Jakarta, kalah dari Persija selaku tuan rumah. Tapi di Ligina 2004 kita berhasil mengalahkan Persija dan juara. Begitu juga dengan Maret 2008 lalu saat terjadi gonjang-ganjing Persebaya, dimana pak Arif Afandi diganggu oleh yang lain untuk melepas jabatannya.
Saya sebenarnya tidak punya keinginan. Sudah kapok mengurus Persebaya. Pada 2005, ketika pekerjaan belum selesai, pada bulan Agustus kita dilaporkan ke kejaksaan, dituduh korupsi. Pekerjaan masih berjalan, Desember belum dilalui kita sudah harus menjalani pemeriksaan. Tekanan luar biasa yang terjadi pada waktu itu tidak hanya dialami orang-orang yang diperiksa, tapi juga pada diri saya sebagai pimpinan mereka. Itu yang sebenarnya membuat saya trauma mengurus Persebaya.
Tapi karena tanggungjawab, menuntut saya melupakan trauma itu dan kemudian harus memikul beban besar mengurus Persebaya. Pada perjalanan waktu, sekitar akhir September 2008, saya diberitahu oleh pengurus KONI Surabaya bahwa saya harus melepas salah satu jabatan sebagai Ketua Umum KONI Surabaya dan Ketua Pengurus Cabang PSSI Surabaya/Persebaya, karena AD/ART KONI hasil Munaslub 2007, melarang rangkap jabatan. Saya akhirnya memilih melepas Ketua Umum KONI Surabaya.
Banyak yang bingung dan bertanya kenapa saya memilih Persebaya dan melepas KONI. Saya merasa di KONI semua sudah berjalan. Sistem terbangun rapi, SDM-nya sudah bagus. Sedang Persebaya sedang bermasalah. Kalau mau enaknya tentu saya memilih KONI. Tapi kembali karena tanggungjawab saya memilih Persebaya. Saya tidak ingin dinilai lari dari tanggungjawab. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Misal kondisi keuangan yang memprihatinkan. Terpaksa mencari pinjaman untuk menggaji pemain. Terus terang saya rugi tetap bertahan di Persebaya.
Ini akan menyusahakan saya pada masa-masa ke depan. Tetapi mau tidak mau itulah yang harus saya pikul. Maka dengan Bismillah saya melepas jabatan di KONI dan memikul beban besar di Persebaya. Ini bukan karena saya gila bola tapi karena saya gila tanggungjawab atas beban-beban yang memang harus dipikul oleh orang-orang yang peduli terhadap kota Surabaya. Insya Allah semakin banyak tugas dan kewajiban yang dipikul seseorang maka dia akan terus belajar dan belajar untuk menyelesaikan apa yang menjadi tanggungjawabnya. Jika itu terjadi maka harkat dan martabat orang tersebut akan menjadi tinggi dimata Allah SWT. Tulisan ini dimuat di Tabloid GELORA Edisi November 2008
0 Responses to Gila Bola No, Tanggungjawab Yes
= Ada Komentar?