Saleh tentang Saleh

⊆ 17:45 by admin | . | ˜ 0 comments »

Saya lahir di Aerbuaya Pulau Buru Maluku Tengah pada 25 Desember 1963, anak ke 14 dari 16 bersaudara. Ayah saya, Abah Ismail hanyalah seorang guru mengaji. Ibu saya juga hanya ibu rumah tangga biasa. Beliau tidak pernah sekolah. Bahkan tidak bisa membaca dan menulis. Keduanya mendidik anak-anaknya dengan keras.

Pulau Buru adalah pulau terpencil di Maluku yang pernah menjadi tempat pembuangan tahanan politik pasca G-30-S PKI. Kampung tempat kelahiran saya ke laut dekat ke gunung pun juga dekat. Orang di sana hanya kenal dua arah, bukan timur barat utara dan selatan tapi hanya arah ke laut dan ke darat saja.

Ketika umur saya sekitar 10 tahun, seperti anak-anak pada lazimnya, saya sering main ke pantai. Kerapkali menunggu saat-saat matahari terbenam. Saya selalu berangan-angan bahwa suatu saat saya bisa meninggalkan Pulau Buru, merantau dan melihat dunia yang lebih luas. Saat itu saya begitu yakin bahwa hal tersebut bakal terjadi.

Ketika SMP, karena tidak ada SMP di Pulau Buru, maka saya dikirim oleh orangtua saya ke Ambon. Saya hanya bertahan 8 bulan karena rindu kampung. Alhamdulillah, tak lama setelah itu ada SMP swasta di kampung yang dibuka. Jadi saya bisa menyelesaikan SMP di tempat kelahiran.

Tahun 1977 bapak dan ibu saya serta hampir sebagian besar saudara hijrah ke Jakarta. Ada masalah internal antar keluarga besar yang memaksa kami harus meninggalkan kampung. Pada 1980, saya menyusul ke Jakarta dan melanjutkan sekolah di sebuah SMA swasta di kawasan Tanjung Priok.

Lulus SMA saya tak bisa meneruskan kuliah karena tidak ada biaya, saat itu orangtua sudah kembali ke kampung, saya dan beberapa saudara yang semuanya masih sekolah dibiarkan hidup di Jakarta. Kami kemudian melakukan pekerjaan apa saja asal menghasilkan uang. Kecuali menjadi preman, untuk bertahan hidup, yang sering saya lakukan adalah menjadi tukang cat rumah.

Tahun 1986 saya hijrah ke Surabaya, diajak oleh teman, Tulus Rahardjo. Di Surabaya saya tinggal menumpang di rumahnya. Sambil kuliah saya juga melakukan pekerjaan macam-macam, untuk mencari uang. Melakukan penagihan rekening air ke rumah-rumah dengan berjalan kaki, menjadi loper koran, sampai menjadi wartawan sebuah surat kabar kecil dari Jakarta. Kuliah saya terpaksa putus di tengah jalan karena hasil dari pekerjaaan apa saja tersebut hanya cukup untuk kebutuhan hidup sehari-hari.

Akhir Desember 1991 menjelang pergantian tahun, saya dikenalkan dengan seorang gadis, Noermilawati. Dan dua minggu kemudian, pada 15 Januari 1992 saya menikahinya. Saya menikah dengan orang yang sama sekali belum saya kenal dekat sebelumnya. Saya berani melakukan itu karena saya yakin bahwa kalau saya baik maka akan mendapatkan istri yang baik pula.

Enam bulan kemudian, 15 Juni 1992, kami melaksanakan pernikahan secara resmi (KUA) dan mengundang keluarga, tetangga dekat dan beberapa teman untuk menjadi saksi atas kebahagiaan kami. Biayanya hanya Rp 2 juta, yang saya dapatkan dari hasil penjualan sepeda motor yang laku Rp 3 juta. Sisanya untuk beli sepeda motor yang lebih butut lagi. Saya sering guyon, saya menjual sebuah kendaraan dan mendapat ganti dua, satu bisa kentut dan yang satu tidak bisa.

Karena tidak ingin hidup dalam pondok mertua indah, dua bulan setelah menikah, saya nekat pindah ke sebuah rumah kontrakan, yang sangat-sangat sempit. Istilahnya rumah kontrakan, tapi sebenarnya hanya sebuah kamar ukuran 2x3 meter. Antara tempat tidur, ruang tamu dan dapur menjadi satu. Lemari tempat menyimpan pakaian adalah sebuah kardus bekas. Saat musim hujan, pakaian yang berada di tumpukan terbawah harus dijemur karena basah kena lembab dari lantai.

Jangankan televisi, tape atau radio saja tidak ada, kursi tamu apalagi. Barang berharga kami saat itu hanyalah alat rumah tangga sederhana dari kado perkawinan kami, seperti kompor dan seterikaan.

Saya melakukan apa saja untuk menghidupi keluarga. Menjadi tukang kredit, menjadi wartawan, calo tiket kapal, menjadi tekong (calo TKI ilegal). Sangat susahnya hidup kami waktu itu, saya sampai-sampai tidak bisa membelikan istri saya buah segar. Saat hamil anak pertama, dia begitu nyidam akan buah. Tapi saya tak mampu membelikannya… Ketika akan melahirkan, saya bawa ke rumah sakit dengan hanya membawa uang dikantong Rp 20 ribu. Anak saya yang pertama sekarang sudah umur 15 tahun, seumur itu pula dia tak pernah doyan makan buah-buahan.

Dalam kondisi sesulit apapun itulah saya banyak belajar bahwa ternyata kekuatan mimpi, harapan dan doa sangat sangat luar biasa. Karena hampir apa saja yang saya inginkan saat itu dan sampai sekarang pun bisa saya capai dengan cara-cara yang tidak terduga. Misalnya, saya membangun rumah saya hanya diawali dengan uang Rp 1,5 juta.

Pada periode 1996-1999, saya tak hanya menjadi wartawan, tapi juga menjual tiket. Namun pada titik tertentu saya ditipu dan saya harus menanggung hutang sampai Rp 30 juta. Saya sempat putus asa, makan tidak enak, hidup tidak nyaman, samapi kemudian saya seolah disadarkan bahwa saya harus bangkit dan terus berjuang untuk menghidupi keluarga.

Padahal seluruh penghasilan yang saya dapat seluruhnya saya pakai untuk mengangsur hutang saya. Makanan kami yang paling mewah adalah nasi goreng. Dalam sehari kami hanya makan satu kali. Itu berlangsung selama setahun.

Sekalipun dalam kondisi sesulit itu, saya dan istri terkadang malah mendahulukan kepentingan orang lain. Sehingga orang di luaran tidak pernah tahu bahwa kami yang di dalam rumah dalam kondisi separah itu, termasuk keluarga sendiri.

Setiap bulannya saya terpaksa menyekolahkan surat motor saya plus kalung dan gelang emas milik seorang sahabat sekedar untuk makan dan membayar hutang. Pernah, suatu ketika, ada orang datang ke rumah, mengaku dari kampung halaman. Dia bilang ke istri saya bahwa baru saja kehilangan dompet karena kecopetan padahal harus pulang ke Jakarta. Karena tidak punya ongkos ia minta bantuan uang Rp 25 ribu ke istri saya. Saat itu, istri saya hanya punya uang Rp 20 ribu di dompetnya. Uang itu pun dengan ikhlas diberikan pada orang yang tak dia kenal. Malamnya, ketika saya pulang ke rumah, saya menyerahkan uang Rp 200 ribu ke dia.

Hal-hal seperti sering terjadi dalam hidup saya. Itu membuat kami menjadi sangat YAKIN bahwa mimpi, harapan, doa, kerja keras, keikhlasan / ketulusan dalam membantu orang tanpa pamrih, akan mendapatkan gantinya berlipat-lipat ganda.

Tahun 1996, saya kembali intensif meliput dan menulis aktifitas PDI Promeg, seperti yang pernah saya lakukan pada tahun 1993 ketika ada KLB PDI di Asrama Haji Sukolilo Surabaya. Saya menjadi dekat dengan Ir Sutjipto, Ketua DPD PDI Jawa Timur saat itu. Saya akhirnya terlibat aktif dalam PDI pimpinan Ibu Megawati Soekarnoputri.

Tak disangka pada tahun 1999, saya tiba-tiba disodori oleh Pak Tjip formulir isian untuk mendaftar menjadi calon legislatif (caleg). Alhamdulillah saya ikut terpilih menjadi anggota DPRD Jawa Timur dari PDI Perjuangan, hingga sekarang.

BIODATA

Nama : H Saleh Ismail Mukadar SH
Tempat/Tgl Lahir : Pulau Buru, 25 Desember 1963

Pekerjaan :
Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya
Ketua Komisi E DPRD Jawa Timur
Ketua DPP Aspekindo Jawa Timur
Ketua Pengcab PSSI Surabaya
Ketua Umum Persebaya
Ketua Umum POBSI Jawa Timur
Mantan Ketua Umum KONI Surabaya

Istri : Noermilawati

Anak :
1. Masyita Ramadita Mukadar
2. Hanifa Rahmania Mukadar
3. Istiqomah Mukadar
4. Muhammad Fauzan Ismail Mukadar
5. Muhammad Zulfikri Syawaludin Mukadar

0 Responses to Saleh tentang Saleh

= Ada Komentar?