Hilangnya Esensi Agama = Korupsi

⊆ 14:12 by admin | , . | ˜ 3 comments »

KOMITEN bersama partai-partai politik di Surabaya seharusnya terus dibangun dan menjadikan satu visi misi bersama dalam memajukan Surabaya, memberi kemakmuran dan mensejahterakan warga kota Surabaya, tanpa melihat latar belakang pilihan politiknya. Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya H Saleh Ismail Mukadar SH menegaskan saat pemilihan legislatif (Pileg) 2009 mendatang, misalnya, partai berlambang 'moncong putih' itu boleh saja tidak berhasil memenangkan pemilu, asalkan masyarakat Surabaya bisa menjadi lebih baik dan semakin sejahtera.

"PDI Perjuangan boleh kalah asalkan siapapun yang menang nanti mampu dan mau melakukan kerja kerja dan kerja bagi seluruh warga kota Surabaya. Saya akan mendukung jika itu terjadi!" tegas H Saleh Ismail Mukadar SH saat acara Dialog Parpol, KPUD dan Konstituen: Membangun Parlemen Bersih, Sabtu (25/10) di Hotel Sahid Surabaya.

Bagi PDI Perjuangan, partai seharusnya hanya menjadi alat perjuangan artinya apapun partainya jika memang sudah berkomitmen terhadap rakyat maka rakyat lah yang harus diuntungkan. Bukan pribadinya maupun partainya semata. Indonesia, yang memiliki masjid dan ulama terbanyak di dunia namun disisi lain menempati ranking sebagai negara paling korup. Ini ironi yang menjadi cermin bagi siapa saja, termasuk calon legislatif yang akan 'bertarung' pada April 2009 mendatang.

"Banyak dari kita yang mengaku beragama etapi ternyata hanya agama di KTP saja, ada yang beragama sebagai sebuah ritual semata, tidak banyak yang beragama karena esensi dari agama tersebut. Ensensi agama tersebut adalah memberi sebanyak-banyaknya dan bukannya menerima sebanyak-banyaknya. Sekarang banyak yang korupsi karena tidak sadar akan esensi agama tersebut," paparnya.

Komitmen moral untuk 'memberi sebanyak-banyaknya' itu menurut Saleh menjadi pijakan paling dasar bagi seseorang termasuk anggota dewan. "Insya Allah jika itu yang jadi pijakan maka ia akan menjadi anggota dewan yang agamis, nasionalis, demokratis, sosialis, kerakyatan dan anti korupsi," paparnya.

Acara Dialog Parpol, KPUD dan Konstituen: Membangun Parlemen Bersih diselengarakan Komisi HAM-LPPM Unair bersama Kemitraan Partnership. Memaparkan hasil focus group discussion (FGD) yang dilakukan bersama sejumlah caleg perempuan dengan konstituennya di sebagian daerah Surabaya dan Malang. Selain caleg perempuan, juga diundang sejumlah pengurus partai politik dan KPUD Surabaya. (sak)

3 Responses to Hilangnya Esensi Agama = Korupsi

  1. Bonari Nabonenar Says:
    memang begitulah, saya merasa para kiai lebih banyak menerangkan, misalnya: kalau berzikir pada bulan puasa pahalanya berlipat sekian ratus kali, salat sunat ini sunat itu pahalanya sekian, tetapi sering terlewatkan, bagaimana membuat warga masyarakat menjaga kebersihan, menjaga lingkungan, menjaga hubungan baik dengan "sesama" dan dengan "bukan sesama". maka, makin banyak orang kaya berbondong-bondong naik haji, bahkan berdemonstrasi kalau quota dikurangi dan membuat para calhaj itu harus bergeser ke waiting list. Tetapi, di sisi lain korupsi makin ganas, angka kriminal di masyarakat semakin tinggi, dan seterusnya.
  2. admin Says:
    manusia diutus adalah supaya bisa berbagi dgn sesamanya, bukan mengambil dari sesamanya tapi itulah manusia makhluk yang jahil dan bodoh,semoga kita tdk termasuk diantaranya
  3. admin Says:
    saya tak berharap banyak jika para anggota dewan yang terhormat tidak akan korupsi, karena negeri ini memang sudha menjadi negeri yang korup. Dibutuhkan pemimpin yang benar-benar pemimpin...

= Ada Komentar?